Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi Berbasis Integrasi Sapi-Sawit di Kalimantan Tengah

Ditulis oleh Administrator Hits: 2642

Pemberian Konsentrat Berbasis Limbah SawitPerkebunan kelapa sawit rakyat/plasma di Kalimantan Tengah mempunyai potensi besar untuk pengembangan sapi potong karena dalam perkebunan kelapa sawit tersedia pakan ternak sepanjang tahun, baik dari limbah sawit (pelepah, daun sawit), rumput, juga limbah pabrik pengolahan CPO. Bila diasumsikan tiap hektar kebun kelapa sawit rakyat/plasma mampu menyediakan pakan yang cukup untuk 1 ekor sapi potong, maka areal perkebunan kelapa sawit petani plasma di Kalimantan Tengah mampu menyediakan 91.289 ekor sapi potong. Sistem integrasi sapi-sawit telah lama dikenal oleh masyarakat dan telah mulai diterapkan secara luas, namun penerapannya belum optimal sehingga diperlukan upaya percepatan dan perluasan spectrum penyebaran inovasi teknologi ini yang dilakukan melalui kegiatan model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (m-P3MI) yang dilaksanakan secara partisipatif oleh semua stakeholders pembangunan pertanian. Model Pengembagan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (m-P3MI) merupakan suatu modus kegiatan diseminasi melalui suatu percontohan konkrit di lapangan, berupa peragaan inovasi teknologi, melibatkan satu kelompok tani atau lebih yang dilaksanakan secara partisipatif melalui pendekatan  on farm dan Participatory Beneficiaries Appraisal. Unit percontohan M-P3MI sekaligus berfungsi sebagai laboratorium lapang dan sebagai ajang kegiatan pengkajian untuk perbaikan teknologi dan perekayasaan kelembagaan pendukung usaha agribisnis.

Model pengembangan pertanian perdesaan melalui inovasi dilaksanakan pada komoditas sapi potong dan kelapa sawit yang dilaksanakan di Desa Sumber Makmur Kecamatan Parenggean, Kalimantan Tengah. Berdasarkan analisis kondisi wilayah, agroekosistem, potensi sumberdaya lokal, kondisi existing teknologi/kelembagaan, analisis permasalahan dan alternatif pemecahan masalah serta dukungan program Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur maka desain Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi berbasis sawit-sapi potong di Kabupaten Kotawaringin Timur difokuskan pada sistem dan usaha agribisnis kelapa sawit dan sapi potong secara terpadu berbasis sumber daya lokal  dengan mengintegrasikan semua sub-sistem agribisnis. Sub-sistem agribisnis tersebut berupa: 1) Sub-sistem agribsinis hulu (perencanaan dan pengelolaan sarana produksi kelapa sawit, ternak, teknologi dan sumberdaya); 2) Subsistem usahatani/ proses produksi (pembinaan dan pengembangan usaha kelapa sawit dan ternak sapi dalam rangka meningkatkan produksi); 3) Subsistem pemanenan dan pemasaran produk; 4) Subsistem jasa lembaga penunjang agribisnis.

Implementasi Inovasi teknologi disesuaikan dengan sasaran dan rencana operasional yang telah dirumuskan dalam rancangan model untuk kedua komoditas. Untuk komoditas sawit berupa; 1) Kontiniuitas ketersediaan bibit sawit berkulitas melalui pengembangan agribisnis pembibitan sawit; 2) Kontiniuitas ketersediaan pupuk dan penerapan teknologi pemupukan berimbang ramah lingkungan melalui pengembangan sistem produksi dan optimalisasi pemanfaatan pupuk organik berkualitas; 3) Peningkatan produktivitas dan kualitas TBS kelapa sawit melalui Perbaikan sistem pemeliharaan dan manejemen produksi; 4) Optimalisasi Pemanfaatan limbah perkebunan untuk sapi potong melalui optimalisasi pemanfaatan pelepah dan hijauan antar tanaman untuk pengembangan sapi potong.

Implementasi inovasi teknologi pada komoditas sapi potong berupa; a) Stabilitas penyediaan (stok) dan kualitas bibit/bakalan sapi potong desa melalui pengembangan agribisnis pembimbitan sapi potong berbasis sumberdaya lokal, b) Ketahanan pakan melalui pengembangan agribisnis pakan ternak dan optimalisasi pemanfaatan sumber pakan lokal, c) Peningkatan Produktivitas dan efisiensi reproduksi melalu perbaikan manajemen usaha, d) Efisiensi pemasaran melalui pengembangan jaringan distribusi, sistem pemasaran dan kemitraan, e) Optimalisasi pemanfaatan limbah sapi potong melalui pembuatan kompos dan biogas, serta f) Implementasi Integrasi dan sinergisme ternak sapi dengan kelapa sawit. Inovasi kelembagaan diarahkan untuk mewujudkan profesionalisme kelembagaan melalui pengembangan sumberdaya manusia, kerjasama dan kemitraan antar lembaga dan organisasi, capacity building dan perumusan model kemitraan.

Ujicoba penerapan model di lapangan diarahkan pada pengembangan agribisnis sapi potong dan kelapa sawit terintegrasi melalui upaya:

  1. Perbaikan manajemen perkandangan melalui penerapan manajemen kandang kelompok model Badan Litbang Pertanian yang dilengkapi kandang kelompok kawin, kandang beranak, kandang pedet/kandang pembesaran.
  2. Penerapan model manajemen pakan berkelanjutan melalui; a) pembangunan gudang dan bank pakan, b) Pengolahan dan pengawetan pakan berbasis limbah; c) Optimalisasi pemanfaatan potensi pakan lokal; d) Penyusunan formulasi  ransum murah bergizi seimbang; e) Pembuatan pakan komplit blok berbasis sawit.
  3. Intensifikasi system pemeliharaan melalui penerapan manajemen pemeliharaan dalam kandang kelompok kawin, kandang beranak dan kandang pedet dengan manajemen intensif (manajemen pembibitan, Intensifikasi kawin alam dan efektifitas IB)
  4. Perbaikan Kesehatan Ternak melalui monitoring kesehatan ternak secara rutin
  5. Implementasi teknologi pada kelapa sawit melalui perbaikan manajemen pemeliharaan dan dan manajemen pemupukan.

 

Implikasi Pemanfaatan Teknologi

 

Hasil ujicoba terbatas implementasi model manajemen pakan telah mengidentifkasi beberapa jenis bahan pakan potensial yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan sapi potong di sekitar perkebunan dan pabrik kelapa sawit, baik berupa hijauan maupun limbah pertanian/perkebunan. Hijauan potensial yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan sapi potong antara lain hijauan antar tanaman disela perkebunan sawit, hijauan di lingkar terluar perkebunan dan pemanfaat covercrop dan hijauan liar yang tumbuh disekitar perkebunan. Sebagai pakan sumber serat pengganti hijaun bisa dimanfaatkan pelepah dan daun sawit, namun untuk pemanfaatannya diperlukan mesin pencacah. Bahan pakan sumber energi dan protein yang tersedia di lokasi usaha berupa singkong karet yang keberadaanya melimpah dan berharga murah, limbah pabrik kelapa sawit berupa solid, bungkil inti sawit. Selain itu untuk menambah asupan protein, dilokasi kegiatan juga tersedia ampas tahu yang bisa dimanfaatkan sebagai pensuplai protein dalam pakan.

Bahan-bahan pakan yang tersedia di lokasi usaha umumnya memerlukan perlakuan pengolahan agar bisa disimpan dalam waktu yang lama dan bisa ditingkatkan kecernaan dan kandungan gizinya. Beberpa perlakuan yang telah dilakukan antara lain pembuatan tepung singkong melalui proses penggilingan dan penjemuran sedangkan untuk meningkatkan kandungan gizi juga dilakukan proses fermentasi dengan menggunakan ragi aspergillus nigger. Ampas tahu sebagai produk yang sulit disimpan dan mudah busuk juga dilakukan perlakuan melalui proses penyimpanan kedap udara menggunakan plastik dan proses pengeringan. Limbah pabrik kelapa sawit yang paling potensial karena bergizi tinggi dan berharga murah adalah solid sawit. Solid sawit yang notabene berupa lumpur merupakan produk yang mudah rusak dan tidak bisa disimpan lama, untuk itu telah dilakukan perlakuan penyimpanan dalam wadah kedap udara dan prosesing dalam bentuk blok. Pakan blok ini disusun dalam bentuk pakan komplit sesuai dengan kebutuhan sapi. Penyusunan konsentrat dan  pakan komplit dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang telah diidentifikasi dengan menghitung secara teliti kebutuhan sapi, kandungan gizi pakan dan harga bahan. Selain itu juga diperhitungkan bentuk pakan jadi yang sesuai dengan karakteristik bahan dan kemudahan sapi dalam mengkonsumsinya. Beberapa produk pakan yang telah dihasilkan antara lain konsentrat, pakan komplit berbentuk mash dan pakan komplit blok.

Ujicoba penggunaan pakan pada sapi potong masih terbatas pada tingkat kesukaan dan palatabilitas, namun hasil pengamatan sementara menunjukkan bahwa pakan yang diberikan sangat disukai sapi. Pakan komplit blok yang disusun dengan pemanfaatan sifat perekat dari solid sawit ternyata sangat disukai sapi dan bisa dijadikan pakan andalan yang mempunyai nilai komersial yang tinggi.

Produktivitas dan reproduktivitas sapi potong sangat tergantung pada kontiniuitas ketersediaan pakan baik secara kulaitas maupun kuantitas. Kontiniutas ketersediaan pakan tidak hanya tergantung pada cara pengeolaannya tapi juga dipengaruhi oleh cara penyimpanannya. Teknik penyimpanan pakan memungkinkan untuk menyimpan pakan dalam bentuk kering dan pakan olahan dalam waktu yang lama sehingga ketersediaan pakan terutama hijauan bisa selalu terpenuhi. Dengan perencanaan penyediaan pakan yang memadai dalam kuantitas dan kualitas sepanjang tahun akan dapat dicapai efektivitas dan efisiensi biaya produksi usaha peternakan (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2012). Penyimpanan pakan dilakukan dengan sistem penggudangan. Melalui sistem ini peternak bisa menghitung suplai-demand kebutuhan pakan serta mengantisipasi ketersediaaan pakan dalam waktu-waktu yang sulit dan mutu pakan yang kurang baik.

Untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja reproduksi sapi dilakukan perbaikan system pemeliharaan melalui pola pembibitan kandang kelompok. Sapi-sapi induk ditempatkan dalam kandang kawin dengan perbandingan jantan dan betina 12:1, sedangkan bagi induk yang akan melahirkan ditempatkan dalam kandang beranak. Induk yang telah melahirkan dipelihara dalam kandang beranak secara intensif dengan pemberian pakan bergizi tinggi (flushing) dan dikembalikan ke kandang kelompok kawin setelah umur anak 40 hari. Pedet yang telah memasuki masa sapih dipisahkan dari induk dan dipelihara tersendiri di kandang pedet. Untuk meningkatkan kualitas bibit dilaksanakan seleksi dengan memilih calon induk sebagai bibit sumber berdasarkan tampilan luar dan induk yang tidak memenuhi syarat dipelihara secara terpisah (direkomendasikan untuk diganti).

Penerapan  teknologi budidaya kelapa sawit diarahkan untuk peningkatan produktivitas TBS dan kualitas hasil panen melalui penerapan inovasi teknologi yang sesuai. Uji coba yang telah dilakukan masih terbatas pada pengkajian permasalahan dan kendala yang dihadapi masyarakat serta pengumpulan data dan sampel tanah untuk penetapan rekomnedasi pemupukan yang akan diberikan. Pembinaan petani plasma dan perkebunan sawit rakyat terus dilakukan melalui pelatihan dan  penyuluhan langsung.

 

 

Umpan Balik Perbaikan Teknologi

Desain model yang disusun memungkinkan strategi dan rencana operasional yang ditetapkan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, untuk itu dilakukan koordinasi dan sinergi kegiatan dengan stakeholder, swasta dan pihak terkait. Hal terpenting yang menjadi fokus perhatian adalah strategi memperoleh limbah pabrik kelapa sawit secara terus menerus.

Manajemen pakan berbasis limbah sawit dan pakan lokal lainnya berpotensi besar untuk berkembang karena ketersediaan bahan baku yang melimpah, dan dukungan teknologi yang memadai, namun perlu dilakukan berbagai upaya dan modifikasi alat agar teknologi bisa diaplikasikan oleh petani. Pakan komplit blok merupakan salah satu strategi pengolahan dan pengawetan pakan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu cabang usaha (unit usaha agribisnis), untuk diproduksi dalam skala besar diperlukan modifikasi alat dan penyesuaian teknologi sesuai potensi dan kondisi masyarakat setempat yang notabene kekurangan tenaga kerja.

Mayoritas peternak di lokasi kegiatan merupakan karyawan perusahaan yang hampir seluruh waktunya tersita untuk jadi buruh perusahaan sehingga kemampuan masyarakat untuk mandiri sangat terbatas, selain itu mereka juga belum berpengalaman dalam pengelolaan ternak sapi sehingga peluang pengembangan ternak sapi masih terkendala oleh sumber daya manusia yang terbatas. Mengatasi hal ini diperlukan teknologi sederhana yang efektif dan efisien baik dalam penggunaan input maupun tenaga kerja sehingga memudahkan dalam pengelolaan ternak sapi.