JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Implementasi Teknologi Manajemen Pakan Berkelanjutan Untuk Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Pulang Pisau

Implementasi teknologi manajemen pakan berkelanjutan untuk mendukung pengembangan sapi potong dilaksanakan di Desa Kanamit Barat, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah, dengan agroekosistem lahan pasang surut. Penerapan teknologi manajemen pakan berkelanjutan ini diupayakan untuk mengatasi permasalahan rendahnya produktivitas dan kinerja reproduksi sapi potong yang disebabkan oleh kekurangan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas, karena ketersediaan rumput lokal di lahan pasang surut Kalimantan Tengah relatif berfluktuasi tergantung curah hujan (kemarau dan banjir).

Implementasi  sistem manajemen pakan berkelanjutan ini diupayakan melalui:

  • Produksi hijauan pakan ternak berkelanjutan melalui budidaya rumput unggul yang sesuai dengan potensi wilayah setempat melalui system tiga strata, tumpang sari, tanaman pagar dan tanaman penguat teras.
  • Optimalisasi pemanfaatan potensi pakan lokal dan limbah pertanian
  • Penerapan teknologi pengolahan dan pengawetan pakan untuk optimalisasi pemanfaatan potensi pakan lokal dan limbah pertanian/perkebunan serta menjamin ketersediaan pakan secara terus menerus. Teknologi pengolahan dan pengawetan pakan yang diterapkan antara lain melalui; pencacahan, hay, silase, pakan fermentasi, Multinutien blok.

Proses pencacahan bertujuan untuk mengurangi ukuran partikel dan melunakkan tekstur sehingga konsumsi ternak lebih efisien. Pencacahan dilakukan terhadap pakan sumber serat yang mempunyai tekstur keras dan berukuran besar seperti jerami padi, jerami jagung, jerami kacang-kacangan, pelepah sawit, rumput lokal, rumput gajah dan bahan pakan lain yang berukuran besar. Proses pencacahan dilakukan secara mekanis dengan menggunakan mesin pencacah berupa chooper atau shreader ataupun secara manual dengan menggunakan parang atau alat pencacah lainnya.

Pembuatan Hay dan silase bertujuan untuk mengawetkan hijauan makanan ternak sebagai cadangan pakan disaat paceklik. Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air hijauan secara bertahap tetapi berlangsung dengan cepat hingga kandungan bahan kering 80-85%, namun bahan tetap hijau dan tidak apek. Silase merupakan pakan ternak yang masih memiliki kadar air tinggi sebagai hasil pengawetan melalui suatu proses fermentasi yang dibantu oleh jasad renik dalam kondisi anaerob. Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu hijauan untuk dimanfaatkan pada masa mendatang.

Fermentasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan manfaat dari hijauan pakan berserat tinggi dengan cara peningkatan nilai kecernaanya melalui pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan mikroorganisme. Melalui proses fermentasi akan terjadi perombakan bahan pakan ternak dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologi bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, sehingga daya cerna ternak menjadi lebih efisien. Prinsip fermentasi adalah pemanfaatan koloni mikroba untuk membantu penguraian struktur jaringan pakan yang sulit terurai.

Urea Multinutrien Molases Block  merupakan pakan suplemen berbentuk padatan yang tersusun dari bahan-bahan kaya nutrisi dan membentuk komposisi nutrisi yang simbang (karbohidrat, asam amino, protein, energi, vitamin dan mineral) sehingga bermanfaat bagi ternak untuk melengkapi zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh untuk berproduksi secara maksimal. Teknologi ini merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan konsumsi pakan ternak karena tersusun dari kombinasi bahan bernutrisi yang secara efisien dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan dan kegiatan mikroba secara efisien di dalam rumen.

  • Teknik Penyimpanan dan Penyajian Pakan

Agar pakan aman dalam kurun waktu tertentu dengan jumlah pasokan yang cukup memadai maka diperlukan proses penyimpanan yang baik dalam gudang pakan. Teknik penyimpanan pakan sangat menentukan kualitas nutrisi yang terkandung dalam pakan, apakah proses penyimpanan mampu mempertahankan kulaitas nutirisi atau bahkan menurun akibat kontaminasi dengan mikroorganisme. Penyimpanan pakan yang telah diolah atau diawetkan dilakukan untuk menjaga kontinuitas penyediaan dan membuat buffer stock pada saat paceklik pakan.

Penyajian pakan selain berpengaruh pada efisiensi penggunaan pakan juga berpengaruh terhadap kulitas pakan yang diberikan, untuk mengatasi ini diimplementasikan teknologi bank pakan. Bank pakan berupa wadah berbentuk rak yang dipergunakan untuk menyimpan sekaligus menyajikan pakan sumber serat (hijauan kering) yang penyediaannya secara stock (Loka Penelitian Sapi Potong, 2011). Keberadaan bank pakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sehingga ternak dapat mengkonsumsi hijauan sepanjang hari

 

Implikasi Pemanfaatan Teknologi

Implementasi inovasi teknologi yang diaplikasikan dilapangan telah menunjukkan kinerja yang memuaskan hal ini terlihat dari perkembangan populasi, produksi, kinerja reproduksi dan efisiensi usaha. Hasil pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa kinerja produkktivitas sapi yang menerapkan komponen-komponen teknologi yang diintoduksikan sangat baik, bahkan meskipun dengan tenaga kerja terbatas kelompok ini bisa memelihara 12-25 ekor sapi untuk 1 orang tenaga kerja.

Melalui implementasi teknologi yang diterapkan di lapangan mampu meningkatkan pertambahan bobot badan harian rata-rata dari 0,15kg/ekor/hari menjadi 0,25kg/ekor/hari. Begitu juga dengan komponen-komponen kinerja reproduksinya seperti jarak beranak, angka kebuntingan, berat lahir yang peningkatannya cukup nyata, angka kebuntingan meningkat dari 60% menjadi 80% dan berat lahir meningkat dari 9,5kg menjadi 12,5kg. Angka service per conception sebagai indikator keberhasilan dalam perkawinan mampu diturunkan dari 2,4 menjadi 1,3, yang mengindikasikan bahwa sitem perkawinan dengan menempatkan induk dan pejantan dalam satu kandang sangat efektif dalam meningkatkan s/c, begitu juga dengan angka kebuntingan induk. Indikator  lain yang cukup significant perkembangannya adalah skor kondisi tubuh rata-rata yang meningkat tajam dari 1,75 menjadi 3 dalam skala lima. Peningkatan ini bukan hanya kerana pengaruh perbaikan pakan tapi juga karena adanya pergantian induk yang skor kondisi tubuhnya kurang dengan yang lebih baik melalui proses seleksi dan pergantian. Perbaikan skor kondisi tubuh ini diharapkan mampu meningkatkan bobot lahir pedet. Meskipun secara umum kinerja produktivitas ini meningkat, namun belum mampu mencapai angka standar yang dipersyaratkan dalam pembibitan sapi Bali, karena memang di lokasi kegiatan sebelumnya produktivitas sapi Bali sangat jauh dibawah rata-rata.

Implementasi teknologi pengolahan dan pengawetan hijaun pakan telah mampu mengefisienkan pemanfaatan hijauan pakan yang ada di lokasi usaha terutama bahan pakan yang bersifat keras dan susah dicerna baik yang berasal dari limbah pertanian maupun rumput lokal. Efisiensi pemanfaatan potensi pakan lokal melalui implementasi teknologi pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ini sangat dirasakan oleh peternak yang memelihara ternak dalam jumlah banyak dan tenaga kerja terbatas terutama di musim kemarau.

Implementasi teknologi pencacahan yang dilaksanakan telah memberikan dampak positif terhadap penyediaan pakan basal ternak sapi, karena peternak mempunyai banyak alternatif dalam memilih pakan sumber serat dan tidak hanya tergantung pada rumput dan hijauan segar. Melalui penerapan teknologi ini hampir semua jenis pakan sumber serat bisa diolah dan dimanfaatkan sebagai pakan sapi sehingga ketersediaan pakan sumber serat bisa dioptimalkan. Penerapan teknologi ini relatif berhasil dan mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat dengan persentase adopter sekitar 75%.

 

Pengolahan dan penyimpanan pakan dengan sistem hay yang diterapkan di lokasi pengkajian telah mampu mengoptimalkan pemanfaatan potensi pakan lokal dan limbah pertanian sebagai pakan ternak serta menjamin kontiniuitas ketersediaan pakan sepanjang tahun. Teknologi ini mendapat respon yang sangat baik dari anggota dan telah diterapkan oleh >65% anggota, selain itu teknologi ini juga telah diadopsi oleh kelompok-kelompok lain disekitar lokasi kegiatan. Adopsi teknologi ini relatif lebih cepat karena manfaatnya sangat dirasakan oleh peternak dan mudah diaplikasikan serta tidak membutuhkan alat dan biaya yang besar. Penerapan teknologi pengolahan dan pengawetan pakan dengan silase memberikan dampak yang lebih baik terhadap performa ternak sapi karena pada proses ensilase terjadi perombakan dan peningkatan nilai gizi serta kecernaan bahan pakan, namun adopsi teknologi ini relatif lambat dibanding hay, karena penerapan teknologi ini memerlukan bahan dan alat serta proses pembuatan yang lebih sulit. Teknologi silase ini telah diadopsi oleh sekitar 55% anggota kelompok dan beberapa kelompok lain disekitar lokasi kegiatan.

Penerapan teknologi fermentasi belum menujukkan performa yang optimal karena peternak lebih menyukai teknologi yang sederhana dan murah seperti hay, namun demikian sebagian anggota yang telah merasakan manfaatnya sangat merespon teknologi ini karena pakan fermentasi ini lebih disukai oleh ternak. Teknologi Urea Multinutrien Molases Blok sebagai alternatif suplementasi pakan sangat disukai oleh ternak dan menjadi andalan bagi peternak karena mampu meningkatkan nafsu makan sapi dan efisiensi pakan. Teknologi UMMB telah diterapkan oleh sebagian besar anggota kelompok dan kelompok tani lain di Kecamatan Maliku.

 

Penerapan teknologi pengolahan dan pengawetan pakan yang dilaksanakan oleh anggota kelompok tani Suka Maju telah mampu menjamin ketersediaan hijauan pakan secara terus menerus terutama persiapan pada musim paceklik. Melalui penerapan teknologi ini mampu menghemat penggunaan tenaga kerja terutama tenaga untuk mencari hijauan pakan hingga 40% dan memberikan peluang bagi peternak untuk memelihara sapi dalam jumlah yang relatif besar (>6 ekor) yang sebelumnya hanya <4 ekor/orang.

 

Teknik penyimpanan pakan memungkinkan untuk menyimpan pakan dalam bentuk kering dan pakan olahan dalam waktu yang lama (6-12 bulan), sehingga ketersediaan pakan terutama hijauan bisa selalu terpenuhi. Dengan perencanaan penyediaan pakan yang memadai dalam kuantitas dan kualitas sepanjang tahun akan dapat dicapai efektivitas dan efisiensi biaya produksi usaha peternakan (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2012). Melalui sistem ini peternak bisa menghitung suplai-demand (permintaan dan penawaran) kebutuhan pakan serta mengantisipasi ketersediaaan pakan pada saat paceklik dan mutu pakan yang kurang baik. Penyajian pakan dalam bank pakan memungkinkan ternak sapi bisa memperoleh hijauan pakan secara terus menerus sehingga mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dalam pemberian pakan.

Umpan Balik Perbaikan Teknologi

Implementasi manajemen pakan berkelanjutan menggunakan komponen-komponen teknologi sederhana yang mudah diterapkan dan tidak memerlukan biaya yang mahal sehingga mudah ditiru oleh peternak, namun demikian untuk perbaikan teknologi ke depan diperlukan modifikasi-modifikasi sederhana sesuai dengan kondisi sosial masyarakat setempat. Untuk menerapkan teknologi yang memerlukan investasi yang cukup besar seperti pembelian mesin pencacah dan pembuatan gudang pakan diperlukan pendekatan manajemen kelompok.

Teknologi hay dan silase merupakan teknologi sederhana yang sudah lama dikenal oleh masyarakat, namun sangat minim dalam penerapan di lapangan. Untuk itu diperlukan pendekatan-pendekatan sosial dan kelembagaan sehingga implementasi teknologi di lapangan tetap lestari.