JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kabupaten Mandiri Pupuk Organik

Kelangkaan pupuk kimia acapkali terjadi disebabkan tidak adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia tidak lepas dari peran pemerintah yang memberikan subsidi harga pupuk kimia. Hal tersebut dapat diduga karena kekuatiran Pemerintah, jika pupuk kimia tidak tersedia dalam kondisi tepat jumlah, tepat waktu, dan tepat sasaran akan mengancam ketahanan pangan dan mengakibatkan gejolak sosial. Sangatlah ironi, meskipun pupuk kimia merupakan bahan berbahaya dan beracun dan tidak ramah lingkungan, namun Pemerintah tetap memenuhi tuntutan permintaan petani, sehingga tahun 2008 Pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp. 14,2 trilyun atau meningkat 108 % dibandingkan tahun sebelumnya

Galakkan Pupuk Organik

Kalimantan Tengah memiliki potensi besar dalam penyediaan pupuk organik. Pupuk tersebut dapat digunakan untuk mensubstitusi pupuk kimia. Pupuk organik dapat digolongkan dari asalnya yaitu limbah dari peternakan dan limbah dari pertanian. Umumnya limbah dari perternakan lebih disukai petani karena lebih cepat reaksinya dan lebih tinggi dalam mendukung produktivitas tanah dan tanaman.

Potensi luas lahan dan iklim yang menunjang di Kalimantan Tengah merupakan nilai tambah untuk pengembangan sub sektor peternakan. Pengalaman membuktikan, bahwa sub sektor peternakan memiliki peluang bisnis yang menarik dibandingkan sub sektor kehutanan yang melemah, sub sektor perkebunan yang sedang terpuruk, dan sub sektor tanaman pangan yang senantiasa was-was terhadap ketersediaan pupuk.

Pada tahun 2007 di Kalimantan Tengah tercatat lebih dari setengah juta populasi ternak (sapi potong, kerbau, domba, kambing, babi) yang diperkirakan menghasilkan limbah sebesar 760 ribu ton; dan terdapat 11,6 juta unggas (ayam, itik) yang diperkirakan menghasilkan limbah sebesar 50 ribu ton.

Limbah ternak dan unggas tersebut berpotensi tinggi jika dimanfaatkan sebagai substitusi pupuk kimia. Dengan mempertimbangkan tingkat kandungan hara masing-masing limbah, maka didapat konversi limbah ternak ke setara pupuk urea dan SP-36 masing-masing sebesar 10.719 ton dan 1.515 ton; sedangkan dari unggas sebesar 6.545 ton dan 929 ton. Jumlah keseluruhan limbah ternak di Kalimantan Tengah setara dengan urea dan SP-36 sebesar 12.234 ton dan 7.474 ton.

Sub Sektor Peternakan Paling Efisien

Sub sektor peternakan merupakan penyumbang unsur hara melalui pupuk organik limbah peternakan melebihi kebutuhan pupuk bersubsidi untuk Kalimantan Tengah tahun 2008, masing-masing sebesar 0,37 % dan 55,71 % untuk pupuk urea dan SP-36.

Total pupuk bersubsidi untuk urea dan SP-36 tercatat pada Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah No. 188.44/54/2008 masing-masing sebesar 12.189 ton dan SP-36 sebesar 4.800 ton. Selain itu subsektor peternakan paling rendah konsumsi pupuk kimianya. Sub sektor ini hanya menggunakan urea sebesar 0,30 % dan SP-36 sebesar 0,13 %, dibandingkan sub sektor tanaman pangan sebesar 65 % dan 58 % dari total pupuk bersubsidi. Potensi sub sektor peternakan dalam mensubsitusi pupuk kimia dapat dikatakan sangat besar, sehingga pengembangan sub sektor peternakan sudah selayaknya dipacu lebih cepat dan juga untuk mewujudkan swasembada daging 2010.

Potensi Pupuk Kandang di Kabupaten/Kota

Berdasarkan jumlah limbah ternak dan unggas yang dikonversikan setara hara (N, P2O5, K2O), pupuk (urea, SP-36 dan KCl), dan rupiah, maka Kabupaten Barito Timur menempati posisi teratas, disusul Kabupaten Kapuas, Kabupaten Barito Selatan dan terbawah ditempati Kabupaten Murung Raya (Tabel 1).



Kabupaten Barito Timur mampu menghasilkan limbah ternak dan unggas setara pupuk urea, SP-36, KCl masing-masing mencapai 2.153 ton dan 1.419 ton, 1.253 ton; Kabupaten Kapuas sebesar 1.808 ton, 1.122 ton, dan 919 ton; sedangkan Kabupaten Murung Raya sebesar 311 ton, 176 ton, dan 141 ton. Jenis ternak penyumbang limbah terbesar terutama adalah babi dan sapi potong.

Jika kontribusi sub sektor peternakan dalam mensubstitusi pupuk kimia dikonversi kedalam rupiah, maka untuk limbah ternak dan unggas setara dengan nilai 38 milyar rupiah.

Kapuas Kabupaten Mandiri Pupuk

Penggunaan pupuk kandang sebagai upaya menambah bahan organik tanah merupakan upaya yang dianjurkan pemerintah (pertanian) dalam peningkatan produktivitas tanah, dibandingkan penggunaan pupuk kimia.

Awal tahun 2009 di Kabupaten Kapuas telah diresmikan pabrik pupuk organik yang memanfaatkan sentra peternakan di Kecamatan Basarang bekerjasama dengan PT Petrokimia Gresik. Hal ini merupakan salah satu langkah nyata pemanfaatan limbah ternak untuk menuju Kabupaten Mandiri Pupuk Organik dan konsisten menjadi Kabupaten Lumbung Padi yang ramah lingkungan.

Oleh:
Dr. M. Anang Firmansyah SP., M.Si (April 2009)