JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Asa petani untuk kembalikan kejayaan lada di Kotawaringin Barat

Seakan berlomba dengan suara ayam berkokok, Supar dengan sigap berangkat menuju lahan untuk menyambangi tanaman ladanya. Sosok lelaki 51 tahun ini merupakan salah satu petani lada yang berada di Desa Lada Mandala Jaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Kotawaringin Barat merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang merupakan asal mula varietas lada bengkayang. Masyarakat awam mengenal bengkayang adalah nama salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, namun varietas lada bengkayang merupakan varietas lada yang berasal dari Kalimantan Tengah.  “Masyarakat seharusnya bangga karena salah satu varietas lada nasional berasal dari Kabupaten Kotawaringin Barat.” ujar Supar memulai cerita asal muasal nama desanya yang terkenal karena kejayaan lada pada masa lalu. Saata ditemui di kebunnya. Rabu (19/9/2020) siang. Ia mengungkapkan sudah mengenal budidaya lada sejak tahun 1990-an.

Informasi yang dihimpun dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pangkalan Lada menyatakan bahwa luas lahan pertanaman lada di Kecamatan Pangkalan Lada pada 2019 hanya sekitar 50 hektar yang tersebar di 10 desa. Luasan rata-rata tiap petani berkisar antara 0,25 hektar hingga 1 hektar dengan varietas lada yang ditanam adalah bengkayang. Namun sayangnya, kondisi pertanaman lada sebagain besar agak kurang terawat.

Keengganan petani untuk merawat tanamannya dipicu oleh fluktuasi harga lada yang sering naik turun dan kurang tersedianya pasar/pedagang pengepul diwilayah Kecamatan Pangkalan Lada. Akibat krisis dan ketidakstabilan harga, para petani umunya mengganti tanaman lada dengan tanaman sawit atau karet, termasuk di sebagian lahan milik Supar.

Berkat adanya bantuan  untuk pertanaman lada pada 2016, Supar sendiri  menanami sebagian lahannya yang seluas 0,75 hektar dengan tanaman lada varietas bengkayang. Jarak tanam yang digunakan adalah 2,25 meter X 2, 25 meter, sehingga populasi yang diperoleh sejumlah 1.120 tanaman. Kayu turus yang digunakan sebagai penyangga adalah kayu ulin dengan panjang 4 meter. Ditanam kedalam tanah sekitar 50 cm sehingga tinggi turus untuk menopang tanaman lada sepanjang 3,5 meter.

Belajar dari pengalaman yang sudah pernah dilakukan, Supar melakukan tumpang sari tanaman lada dengan tanaman sengon. “Kalau tanaman lada tidak ternaungi, ndak bisa optimal pertumbuhannnya, bahkan bisa mati kepanasan” ungkap Supar. Untuk mensiasati hal tersebut, beliau menanam tanaman sengon sekitar 100 pohon dilahan pertanaman ladanya yang seluas 0,75 hektar dengan asumsi cahaya matahari yang masuk antara 70-80 persen.

Hama utama yang ditemui adalah hama walang sangit yang mengakibatkan buah lada akan hitam dan jatuh. Biasanya petani melakukan penyemprotan dengan insektisida untuk menanggulangi hama walang sangit tersebut.

Hasil panen dilahan Supar berkisar antara 0,9 hingga 1 ton setiap kali panen. Hal ini menurut beliau sangat jauh dari potensi panen yang bisa diperoleh yaitu hingga 2 ton/hektar. Selain menjual lada dalam bentuk buah/biji, Supar juga menjual tanaman ladanya dalam bentuk bibit. Harga untuk bibit lada dengan panjang 5-7 ruas adalah Rp. 5.000,-/bibit. Sedangkan untuk bibit yang dimasukkan dalam polybag dihargai dengan Rp. 11.000 tiap polybagnya.

Susahnya mencari pedagang dan pasar serta fluktuasi harga yang tidak stabil juga disampaikan oleh Pak Supar. Hal ini merupakan salah satu tantangan dalam pengembangan lada di Kecamatan Pangkalan Lada. “Harga lada saat ini Rp. 50.000/kg dan sangat susah menjualnya” keluh Supar sambil menghela napas panjang. Harapan beliau adalah adanya campur tangan dari pemerintah untuk membantu menyediakan pasar dan stabilitas harga lada.

Mendengar penjelasan Supar serta kondisi nyata di lapangan, sebenarnya masih besar niat dan harapan petani di Kecamatan Pangkalan Lada untuk terus membudidayakan lada diantara gempuran tanaman sawit dan karet yang semakin banyak menggantikan posisi pertanaman lada. Namun harapan terbesar adalah adanya jaminan harga dan pasar agar hasil panen dapat segera terjual dengan harga yang optimal.

Harapan Supar, Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat dapat membuat kebijakan dan atau menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk bisa merealisasikan harapan dan keinginan petani lada untuk mengembalikan kejayaan lada di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Penulis:

Astri Anto

Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Tengah

HP. 08125929831