JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kesadaran Masyarakat tentang Keamanan Pangan

Kasus penggunaan formalin pada industri pangan, khususnya industri tahu, mi basah maupun ikan asin telah mewarnai berita utama pada media cetak maupun elektronik akhir-akhir ini. Berita mi berawal dari temuan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Provinsi Jawa Timur terhadap beberapa sampel tahu dan mi basah yang menunjukkan bahwa sebagian besar sampel positif mengandung formalin. Temuan tersebut ditindak-lanjuti oleh Balai POM di daerah lain dan hasilnya cukup mengkhawatirkan masyarakat. Formalin merupakan bahan pengawet yang tidak diizinkan digunakan untuk makanan karena berbahaya bagi kesehatan. Akibat dari pemberitaan tersebut omzet penjualan tahu, mi hasah bahkan mi ayam turun drastis. Tentu saja ini berimbas pada penghasilan mereka yang semakin menurun. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa ini sedikit banyak telah mengingatkan masyarakat akan pentingnya keamanan pangan dan mereka memerlukan jaminan keamanan makanan yang dikonsumsinya. 

Menurut UU Pangan, yang dimaksud keamanan pangan adalah kondisi atau upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungki nan pencemaran biologis, kimia atau bahan lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu keamanan pangan tidak dapat didapatkan begitu saja, namun diperlukan usaha untuk memperolehnya. Terdapat tiga sumber pencemaran yang mempengaruhi keamanan pangan, yaitu bahaya biologi. Kimia dan fisik. Bahaya biologi merupakan bahaya yang berasal dari jasad hidup terutama jasad renik berupa bakteri, maupun jamur. Bahaya biologi ini bisa berasal dari bahan mentah dan air yang tercemar, pekerja dan peralatan yang tidak higienis maupun kontaminasi silang antara bahan mentah dengan produk yang dihasilkan. Formalin merupakan salah satu bahan kimia berbahaya. Bahaya kimia lain dapat berasal dari hasil metabolisme mikroba, misalnya aflatoksin yang dihasilkan jamur Aspergilus niger, enterotoksin yang dihasilkan Staphilococcus aureus. Bahan kimia berbahaya juga dapat berasal dari racun alami pada bahan makanan seperti dioscorin pada gadung. Bahan tambahan makanan yang diizinkan pun juga dapat menimbulkan bahaya jika penggunaannya melebihi ambang batas yang telah ditetapkan. Penggunaan pengawet natrium benzoat yang melebihi batas ataupun penggunaan bahan pewama kain pada makanan juga berhahaya bagi konsumen. Sedangkan bahaya fisik berupa kerikiI, potongan gelas, potongan ranting dan benda-benda berbahaya lain yang dapat mencemari dan membahayakan konsumen.

Kurangnya pengetahuan maupun pemahaman pengusaha industri pangan khususnya industri rumah tangga dan industri kecil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jaminan keamanan pangan. OIeh karena itu diperlukan pelatihan tentang keamanan pangan pada industri tersebut agar produk makanan yang mereka hasiIkan aman untuk dikonsumsi. Pelatihan tersebut sebaiknya juga ditindak-lanjuti dengan pembinaan yang kontinyu sehingga keamanan pangan di tingkat industri kecil dapat terus dipantau dan ditingkatkan. Pengawasan dan instansi terkait juga perlu ditingkatkan untuk menjaga keamanan makanan yang beredar di masyarakat.

Oleh: Elmi Kamsiati, STP
(Staf Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah)

(Kalteng Pos, Kamis 9 Februari 2006)