Perlunya Reorientasi Usaha Peternakan Sapi Potong Menuju Agribisnis Pembibitan Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Mewujudkan Mimpi Swasembada Daging Sapi 2014 di Kalimantan Tengah

Written by Adrial Hits: 3508
Kalimantan Tengah menargetkan pada tahun 2015 tidak akan memasok sapi dari luar daerah, mengingat hingga saat ini untuk memenuhi konsumsi daging sapi Kalimantan Tengah sangat tergantung pada daerah lain, sehingga bisa memicu inflasi tinggi. Ini merupakan harapan yang sangat menggembirakan dan sekaligus merupakan tantangan berat bagi segenap insan peternakan di Kalimantan Tengah, mengingat hingga saat ini Kalimantan Tengah harus mendatangkan sedikitnya 5.000 ekor sapi dari luar daerah setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena produksi lokal hanya mampu memenuhi sekitar 45-50% dari total kebutuhan.

Sejalan dengan harapan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah, secara nasional pemerintah sudah menargetkan tercapainya swasembada daging sapi pada tahun 2014, mundur dari target semula yakni tahun 2010. Untuk mencapai target ini populasi sapi potong di Kalimantan Tengah pada tahun 2014 harus mencapai 6.770 ton, padahal prediksi populasi sapi potong di Kalimantan Tengah pada tahun 2010 baru mencapai 3.681 ton. Berdasarkan asumsi di atas mungkin harapan ini agak berlebihan dan membuat pesimis berbagai pihak, namun jika semua komponen bersatu dan bekerjasama secara profesional dan terarah harapan ini bisa jadi kenyataan.

Masalah dalam Pengembangan Usaha Sapi Potong

Usaha agribisnis sapi potong secara nasional mengalami problema yang ditunjukkan oleh rendahnya peningkatan populasi, bahkan untuk kurun waktu 1994 – 2002 populasi sapi potong mengalami penurunan sebesar 3,1% per tahun. Permasalahan ini muncul akibat usaha agribisnis sapi potong yang banyak digeluti oleh peternak di Indonesia adalah usaha penggemukan (fattening) dan sangat sedikit yang bergerak dibidang pembibitan, sehingga industri sapi potong di Indonesia selalu terkendala oleh kurangnya pasokan bakalan (cow calf operation), selain itu sistem pemeliharaan sapi potong pada tingkat peternak produktivitasnya masih rendah dengan tingkat pertambahan bobot badan harian (PBBH) < 0,4 kg. Peternak belum mampu memberikan pakan seimbang sesuai dengan kebutuhan gizi ternak sapi, akibatnya produktivitas sapi potong pada usaha peternakan skala kecil sangat rendah karena pemberian pakan dilakukan seadanya tidak sesuai dengan kebutuhan dan status fisiologis ternak.

Pentingnya Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi Potong

Pembibitan sapi potong merupakan sumber utama sapi bakalan bagi usaha penggemukan sapi potong di Indonesia, walaupun ada sebagian kecil yang berasal dari bakalan impor namun secara umum kebutuhan konsumsi daging sapi di Indonesia sangat tergantung pada usaha pembibitan yang dikelola oleh peternakan rakyat. Sampai saat ini belum ada perusahaan swasta atau perusahaan negara yang bergerak di bidang pembibitan sapi potong karena usaha ini dinilai kurang menguntungkan.

Usaha pembibitan (cow calf operation) untuk menghasilkan pedet atau sapi bakalan memerlukan biaya pakan yang relatif mahal. Apabila asumsi rata-rata jarak beranak 500 hari dan biaya pakan Rp 5000,- per hari maka biaya pakan untuk menghasilkan pedet sedikitnya Rp 2,5 juta (Mariyono, 2009). Usaha untuk menekan biaya pakan pada usaha cow calf operation adalah dengan melakukan integrasi dengan usaha pertanian dan atau perkebunan dimana kedua lokasi tersebut mempunyai potensi biomass lokal sebagai sumber pakan yang berlimpah. Integrasi tersebut diharapkan dapat mendekati kondisi zero cost (biaya rendah) terutama dari segi pakan.

Pelaku usaha agribisnis sapi potong harus terus berusaha melakukan efisiensi biaya pemeliharaan melalui penggunaan bahan pakan alternatif. Penggunaan bahan pakan alternatif ini tentunya berdasarkan pada pertimbangan harga, potensi dan keamanan bahan. Walaupun bahan pakan alternatif tersebut mempunyai prospek dan kualitas baik, tidak jarang peternak menolak menggunakannya sebelum mereka melihat keuntungannya melalui kegiatan usaha agribisnis secara nyata.

Agribisnis Pembibitan Sapi Potong di Kalimantan Tengah

Berdasarkan aspek pewilayahan Kalimantan Tengah mempunyai potensi besar untuk pengembangan peternakan dilihat dari luas lahannya (153.564 km2) yang terdiri dari lahan pasang surut (rawa) 5,5 juta ha dan lahan kering 7,7 juta ha dan ketersediaan pakan lokal yang melimpah. Luas lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan seluas 1.158.500 ha belum termasuk daerah rawa. Potensi rumput alam di Kalimantan Tengah mampu menampung pengembangan ternak 2,5 juta ekor sapi, belum lagi hasil dari limbah pertanian tanaman pangan, sayuran, hortikultura dan perkebunan.

Pengembangan agribisnis pembibitan sapi potong di Kalimantan Tengah untuk masa mendatang perlu dilakukan melalui pendekatan agribisnis yang berkelanjutan. Usaha pembibitan sapi potong dituntut lebih modern dan profesional dengan memanfaatkan inovasi teknologi yang menekankan aspek efisiensi usaha. Optimalisasi penggunaan pakan asal biomas setempat yang potensial dan sesedikit mungkin menggunakan pakan tambahan yang berasal dari luar daerah atau yang biasa disebut dengan model Low External Input Sustainable Agricultural (LEISA) diharapkan selain dapat menurunkan biaya ransum juga mampu menghasilkan produktivitas ternak yang optimal.

Tingginya permintaan bakalan merupakan peluang besar untuk pengembagan agribisnis pembibitan sapi potong di Kalimantan Tengah, namun untuk menggugah semangat peternak yang mayoritas peternakan rakyat skala kecil perlu campur tangan pemerintah dalam memfasilitasi dan advokasi terutama dalam dukungan modal dan inovasi teknologi. Pemerintah bisa memfasilitasi kelompok-kelompok tani dengan perbankan yang menyediakan skim kredit baik dari program pemerintah pusat (Kredit KKP-E, Kredit Usaha Pembibitan Sapi Potong (KUPS, PUAP dll) maupun program pemerintah daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah.

Efisiensi usahatani bisa diperoleh dengan pemanfaatan sumberdaya lokal potensial yang ada di lokasi usaha yang tersedia dengan mudah dan harga murah, seperti limbah pertanian dan limbah perkebunan. Kunci utama dari efisiensi pakan pada pembibitan sapi potong adalah pemberian pakan (kualitas gizi dan jumlah) harus sesuai dengan kebutuhan dan status fisiologis ternak. Melakukan perubahan kearah yang lebih baik memang tidak segampang mengucapkannya, namun jika ada komitmen dan semangat dari semua pihak kita optimis swasembada daging sapi 2014 di Kalimantan Tengah bukan hanya sebuah wacana dan mimpi belaka, semoga!!! by Adrial.