JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kearifan Lokal Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Usahatani dalam Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim di Kalimantan Tengah

Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) salah satunya CO2 diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim secara global. Kondisi hujan sepanjang tahun menyebabkan banjir diberbagai belahan dunia sangat mengancam produksi pangan, begitu pula kemarau yang berkepanjangan.

Emisi CO2 nampaknya lebih tinggi dihasilkan pada agroekosistem tanah gambut dibandingkan tanah mineral, perbandingannya hampir sepuluh kali lipat. Kalimantan Tengah memiliki tanah gambut cukup luas mencapai 5,8 juta hektar dengan cadangan CO2 sebesar 1.954 t/ha (Las et al, 2011).

Pelepasan CO2 makin intensif jika di agroekosistem gambut dibuat saluran drainase, Penelitian menunjukkan bahwa pembuatan saluran drainase sedalam 60 cm di lahan gambut untuk perkebunan mampu mengemisikan CO2 sebesar 55 t/ha/th (Hooijer et al ., 2006 dalam Las et al ., 2011). Selain itu pembakaran lahan secara tradisional di berbagai tempat menyebabkan emisi dan subsiden tanah gambut relatif tinggi (Agus dan Subiksa, 2008).

Terkait emisi CO2 di lahan gambut dan aspek usahatani rakyat, maka tidak lepas dari aspek sistem usahatani yang digunakan oleh masyarakat tani. Umumnya aspek pengelolaan lahan gambut oleh masyarakat tani tidak terlepas dari penggunaan api untuk berbagai tujuan. Klasifikasi penggunaan api atau pembakaran lahan dalam mempersiapkan usahatani di lahan gambut terbagi menjadi 3 golongan, yaitu: 1) penyiapan lahan usahatani melalui pembakaran yang tidak terkendali, 2) penyiapan lahan usahatani melalui pembakaran terbatas dan terkendali, dan 3) penyiapan lahan usahatani tanpa pembakaran.


Penyiapan lahan usahatani melalui pembakaran tak terkendali, artinya sistem pembakaran dilakukan secara serampangan yang menyebabkan kebakaran berpotensi meluas melewati areal usahatani yang akan dikerjakan. Cara pembakaran ini berdampak menjalarnya api hingga membakar lapisan bawah gambut, selain menghasilkan asap pekat, kebakaran sulit dipadamkan.

Penyiapan lahan usahatani melalui pembakaran terbatas dan terkendali, artinya pembakaran yang dipersiapkan terlebih dahulu dengan membuat sekat antara areal usahatani dengan areal diluar usahatani sehingga pembakaran tidak meluas, mempersiapkan terlebih dahulu pompa air untuk antisipasi jika kebakaran meluas, dan pembakaran ditujukan hanya pada serasah dan sedikit sekali memakan gambut yaitu hanya dilapisan permukaan dimana masih terdapat perakaran semak-semak.

Penyiapan lahan usahatani tanpa pembakaran,yaitu memanfaatkan vegetasi di atas permukaan tanah gambut secara menyeluruh untuk dijadikan mulsa guna meraih keberhasilan dalam usahatani. Sistem ini menghindari penggunaan api ataupun pembakaran.

Baca Artikel Lengkap (pdf)