JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sebutir Nasi, untuk Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi,merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (UU Pangan No.18 Tahun 2012).

Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  setiap bulan Oktober, tepatnya tanggal 16 Oktober yang yang ditetapkan oleh FAO (Food and Agriculture Organization)/ organisasi pangan dan pertanian dibawah PBB pada tahun 1979. Tahun ini peringatan HPS secara nasional akan dilaksanakan di Padang tanggal 24-27 Oktober 2013. HPS menjadi  momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat akan pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia maupun dunia.

 

Seperti kita ketahui, kebutuhan pangan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Peningkatan jumlah penduduk ibarat deret ukur (deret ukur, contoh: 2, 4, 8, 16, 32 dst) yang jumlahnya semakin berlipat seiring dengan waktu  sementara peningkatan produksi ibarat deret hitung (contoh deret hitung: 2, 4, 6, 8, 10, dst) yang hanya mengalami penambahan.

Kondisi ini terus perlu dicermati, karena kebutuhan pangan merupakan kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup manusia. Saat ini, kebutuhan pangan nasional, selain mengandalkan produksi nasional, juga masih tergantung dengan impor dari luar negeri. Dari beras sampai daging sapi masih perlu kita impor untuk memenuhi kebutuhan kita.

Peningkatan produksi pertanian senantiasa diupayakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu upaya diversifikasi juga terus digalakkan, namun yang mungkin sedikit luput dari perhatian kita adalah kearifan kita dalam mengkonsumsi pangan. Kearifan dalam mengkonsumsi pangan, sesuai dengan kebutuhan kita, secukupnya, tidak mubadzir.

Beras yang menjadi makanan pokok penduduk Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah, sebagian masih kita datangkan dari luar. Konsumsi beras penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2012 mencapai 121 kg/kapita/tahun. Jika dikalikan dengan penduduk Kalimantan Tengah yang  menurut BPS (2012) sebesar 2.249.146 orang, maka kebutuhan beras per tahun sebesar   272.146 ribu ton.

Konsumsi beras yang besar ini, mungkin tidak sepenuhnya benar-benar kita makan. Mari kita ingat kembali, apakah piring kita benar-benar bersih ketika kita selesai makan ? Atau masih tersisa beberapa butir nasi di piring kita ?

Coba kita hitung, 1 butir nasi berasal dari satu butir beras , dimana 1000 butir beras, rata-rata setara dengan 20 g beras, berarti satu butir nasi setara dengan 0,02 g beras. Sehingga jika setiap kali kita makan, meninggalkan satu butir beras pada piring kita, berarti setiap tahun kita telah membuang,  1 bulir nasi x 3 kali makan x 365 x 0,02 gram = 21,9 gram beras, memang kelihatannya tidak banyak , hanya 21,9 gram beras.

Namun,  jika ¾ penduduk Kalimantan Tengah menyisakan satu butir nasi pada piringnya setelah makan setidaknya ada ¾ x 2.249.146 x 21,9 gram = 36.942 kg beras. Jumlah yang tidak sedikit bukan.

Itu baru dari satu butir nasi, jika 10 butir atau bahkan satu sendok nasi ?, belum dari sayuran, ikan dan makanan lain yang tertinggal dipiring ketika kita makan. Bahkan mungkin tak jarang, ada sisa nasi kemarin yang kita buang. Betapa banyak yang telah kita buang, sementara sebenarnya makanan itu masih bisa dimanfaatkan.

Dimulai dari yang kecil, yaitu tidak menyisakan makanan dari piring kita. Mengambil makanan secukupnya, sesuai dengan keperluan kita. Harapannya lebih banyak orang dapat merasakan manfaat dari makanan  sehingga lebih banyak orang dapat tercukupi kebutuhan pangannya. Semoga! (Elmi Kamsiati)