JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Enaknya Menambah Sapi Pejantan

Sapi pejantan milik Harto (tengah), di trans Buntut Bali, Katingan “Enak juga punya sapi pejantan, untungnya dobel, dari sapi dan dari ongkos kawin sapi betina.” Begitulah kira-kira yang ada di benak pemilik sapi betina. Karena untuk mengawinkan ternaknya sampai bunting, harus membayar 300 ribu kepada pemilik sapi pejantan, seperti yang dialami Kojin (40 tahun), peternak di daerah Ampah, Barito Timur. “Satu pejantan rata-rata untuk 20 ekor betina,” tambah Kojin.

Setali tiga uang dengan penuturan Harto (50 tahun), peternak yang tinggal di daerah transmigrasi Buntut Bali, Kabupaten Katingan, harus menolak penawaran untuk menjual sapi pejantannya dengan harga tinggi. “Ada yang mau membeli sapi saya untuk upacara sembahyang hindu kaharingan yaitu tewah, mereka akan membayar sesuai harga yang saya minta, tanpa tawar-menawar, tapi saya menolaknya, jika saya menerima maka saya membantu satu orang tapi mengorbankan kepentingan orang banyak,” ungkapnya dengan bijak. Hal ini karena sapi pejantannya adalah satu- satunya yang ada di kampungnya.

Sekelumit gambaran kekurangan sapi pejantan di atas, mungkin juga terjadi di daerah lain. Perbandingan jumlah sapi pejantan dan betina yang tidak seimbang. Seyogyanya satu pejantan untuk sepuluh ekor betina. Tetapi di lapangan perbandingannya tidak seimbang, pejantan sangatlah kurang. Jika hal ini tidak diatasi maka akan terjadi perkawinan antara dua atau lebih sapi yang masih memiliki hubungan kekerabatan (inbreeding / silang dalam).

Contoh inbreeding terjadinya perkawinan antar saudara tiri sebapak, sering terjadi pada sapi, yang memiliki koefisien silang dalam 12,5%, bisa berakibat pada munculnya sifat-sifat merugikan yang sebelumnya tertutup sifat dominan atau sifat resesif.

Akibat negatif dari inbreeding diantaranya: 1) penurunan berat badan dewasa, berakibat turunnya berat potong ternak; 2) menurunnya kesuburan atau fertilitas ternak, sehingga jarak beranak atau calving interval menjadi panjang; 3) menurunnya daya kekebalan dan ketahanan tubuh terhadap penyakit, menyebabkan tingginya tingkat kematian ternak; 4) pemotongan ternak yang berkualitas menjadi tinggi, pejantan yang berkualitas jumlahnya menjadi rendah. Hal ini berakibat pada menurunnya potensi genetik pada ternak.

Untuk mengatasi efek negatif dari inbreeding, sudah seharusnya dilakukan penambahan sapi pejantan yang berkualitas. Untuk mendapatkan sapi pejantan yang berkualitas diawali dengan identifikasi; pencatatan (recording) yang meliputi silsilah, produksi, reproduksi, dan kesehatan ternak individu; sistem perkawinan; seleksi; ranking; pejantan dan induk; sertifikasi; uji zuriat (progeny test); kontinuitas dalam memproduksi calon pejantan serta proven bulls (pejantan teruji).

Untuk mendapatkan pejantan yang berkualitas peternak juga bisa melakukan seleksi secara tradisional. Seleksi ini berdasarkan bentuk luar, yang disempurnakan dengan metode scoring. Pada metode ini ternak dinilai bentuk luarnya secara kualitatif menggunakan skor. Contoh penilaian kualitatif seperti kepala dan leher, warna kulit, dada dan punggung, pinggang dan pinggul, paha dan kaki, pertumbuhan dan keharmonisan bentuk.

Untuk lebih menyempurnakan perlu digunakan juga data kuantitatif, yang meliputi tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada, berat badan, umur, lebar dada, dalam dada, lebar pinggang, lebar pinggul, lingkar scrotum, canon bone, dan tinggi pinggul.

Selain itu untuk mendapatkan hasil yang baik, perlu dikombinasikan dengan metode pencatatan data (recording). Catatan ini sangat berguna, karena tidak jarang pejantan yang menunjukkan bentuk luar yang baik, tetapi ternyata majir.

Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan, agar peternak tidak gampang menjual pejantannya jika harganya tinggi, kecuali jumlahnya sudah mencukupi. Jika hal itu dilakukan maka permasalahan akan terus berulang. (dari berbagai sumber). Dimuat di Sinar Tani Edisi 19-25 September 2012 No. 3474 Tahun XLIII

Oleh : Harmini, S.Pt – BPTP Kalimantan Tengah

“Enak juta punya sapi pejantan, untungnya dobel, dari sapi dan dari ongkos kawin sapi betina.”

Begitulah kira – kira yang ada dibenak pemilik sapi betina. Karena untuk mengawinkan ternaknya sampai bunting, harus membayar 300 ribu kepada pemilik sapi pejantan, seperti yang dialami Kojin ( 40 tahun ), peternak di daerah Ampah, Barito Timur. “Satu pejantan rata – rata untuk 20 ekor betina,” tambah Kojin.

Setali tiga uang dengan penuturan Harto ( 50 tahun ), peternak yang tinggal di daerah transmigrasi Buntut Bali, Kabupaten Katingan, harus menolak penawaran untuk menjual sapi pejantannya dengan harga tinggi. “ Ada yang mau membeli sapi saya untuk upacara sembahyang hindu kaharingan yaitu tewah, mereka akan membayar sesuai harga yang saya minta, tanpa tawar – menawar, tapi saya menolaknya, jika saya menerima maka saya membantu satu orang tapi mengorbankan kepentingan orang banyak,”ungkapnya dengan bijak. Hal ini karena sapi pejantannya adalah satu – satunya yang ada dikampungnya.