JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Menengok Integrasi di Pulau Borneo

Bukan dua hal yang saling bertentangan, justru saling menguatkan. Itulah gambaran hubungan antara sapi dan sawit. Integrasi kebun kelapa sawit dan ternak sapi ibarat sismbiosis mutualisme (saling menguntungkan)

Perkebunan kelapa sawit menghasilkan limbah seperti pelepah, daun, lumpur sawit (solid decanter), janjang kosong, serabut sisa perasan buah serta bungkil inti sawit (BIS). Limbah-limbah tersebut bisa menjadi bahan baku pakan ternak.

Di Indonesia potensi tersebut sangatlah besar, termasuk di Pulau Kalimantan. Luas perkebunan sawit di Pulau Borneo mencapai 7,5 juta ha. Dari luasan tersebut yang sudah berproduksi hampir 1,5 juta ha, dengan laju luas tanam 12,6 persen per tahun.

Hitung-hitungan kasarnya. Di Indonesia tiap perkebunan kelapa sawit bisa ditanami 130 pohon per hektar (tergantung kondisi lahan). Tanaman sawit yang sudah berproduksi menghasilkan 22 pelepah per tahun, dengan berat rata-rata 7 kg per pelepah. Artinya dalam satu hektar mampu menghasilkan 20 ribu kg/pelepah segar.

Jika dalam satu pelepah ada 0,5 kg daun sawit, maka total bahan kering yang dihasilkan mencapai 5.214 kg /ha atau setara dengan bahan kering 658 kg/ha/tahun. Dengan demikian, satu hektar perkebunan kelapa sawit menghasilkan sekitar 5.872 kg bahan kering.

Sementara tandan kosong digunakan sebagai penutup tanah (mulsa). Hasil samping dari CPO (crude palm oil) menghasilkan serat perasan buah. Kedua bahan tersebut potensial sebagai sumber serat untuk ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Jika dilihat dari potensi diatas seharusnya Kalimantan Tengah mampu berswasembada daging. Bahkan bisa menjadi daerah pengembangan ternak khususnya sapi potong. Kenyataannya dengan permintaan daging mencapai 44,68 ribu ton, ternyata Kalimantan Tengah hanya bisa menyediakan 17,82 ribu ton, sehingga terjadi defisit 26, 85 ribu ton.

Sumber lain menyebutkan Kalimantan Tengah kekurangan sapi ± 5000 ekor per tahun. Selama ini populasi sapi di Kalimantan Tengah Pada umumnya didatangkan dari Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi.

Kekurangan pasokan daging/sapi tersebut bisa diatasi dengan simbiosis mutualisme sawit-sapi. Jika satu ekor sapi menghasilkan kotoran ± 25 kg dan kotoran cair 10 kg per ekor per hari. Diasumsikan dalam satu hektar perkebunan sawit yang sudah berproduksi mampu menyediakan pakan untuk tiga ekor sapi, maka jumlah kotoran basah yang dihasilkan 2,7 ton dan kotoran cair 1,09 ton per hektar per tahun.

Artinya terjadi rotasi biologis yang berkesinambungan. Sapi menghasilkan pupuk. untuk tanaman. Tanaman menghasilkan serat untuk pakan ternak. Sawit sebagai penghasilan utama. Ternak sebagai pendukung. Pupuk sebagai titik ungkit swasembada daging sapi.

Dengan demikian, permasalahan pencapaian swasembada daging sapi khususnya masalah ketersediaan pakan yang kurang mendukung baik kuantitas, kualitas maupun kontinyuitas diharapkan bisa teratasi. Harmini. BPTP Kalimantan Tengah. Dimuat di Sinar Tani edisi 23-29 april 2014 No. 3554 Tahun XLIV.