JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Dulu, Jual Kompos Itu Susah

Unit Pengolahan Kompos Kelompok Tani Subur makmurKalimat di atas diutarakan oleh Sutiyana, ketua kelompok tani Subur Makmur, Desa Pangakalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, kabupaten Kotawaringin Barat  yang merupakan kelompok tani berbasis integrasi sawit sapi terbaik di Indonesia, untuk kategori plasma. Sekarang mereka mampu menjual 80 ton pupuk kompos per bulan.

Saat ini beberapa kelompok tani kesulitan memasarkan produksi pupuk kompos hasil olahan kotoran sapi mereka. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran petani akan pentingnya pupuk kompos terhadap produktifitas lahan. Petani masih mengandalkan pupuk kimia yang saat ini beredar di pasaran.

Untuk berproduksi optimal tanaman membutuhkan unsur hara makro dan mikro yang cukup. Unsur hara makro antara lain Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Belerang (S). Unsur hara mikro antara lain Besi (Fe), Boron (B), Mangan (Mn), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Klhor (Cl) dan Molibdenum (MO).

Petani secara umum menggunakan pupuk kimia yang menyediakan unsur hara makro sebatas N, P, dan K. Tanpa di imbangi penyediaan unsur hara yang lain, unsur hara dalam tanah menjadi tidak seimbang. Hal ini menyebabkan turunnya produktifitas lahan dan kurangnya pertumbuhan tanaman saat penanaman kembali (replanting) dilakukan. Pupuk Organik menyediakan unsur hara serta mikro organisme sehingga unsur hara yang diberikan dapat terurai dan terserap lebih baik oleh tanaman. Pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik yang seimbang dapat menjaga lahan tetap lestari dan berproduksi optimal.

Sutiyana mempelopori gagasan untuk ‘memaksakan’ penggunaan pupuk kompos di perkebunan sawit milik anggota kelompok tani. Prinsip dasarnya, penggunaan kompos di lahan sawit anggota kelompok tani tidak menambah anggaran belanja pupuk mereka. Beliau berpendapat dengan pendapatan yang relatif kecil penambahan biaya pupuk akan memberatkan ekonomi rumah tangga petani sawit. Kelompok tani mengharuskan petani mengurangi dosis penggunaan pupuk kimia dan menggunakan pupuk kompos sebagai tambahannya. Misalkan dalam satu periode pemupukan petani biasa menggunakan 3 kg pupuk NPK per pohon, maka dosisnya dikurangi menjadi 2 kg pupuk NPK per pohon. Sisa pembelian 1 kg pupuk NPK dapat dialihkan untuk membeli pupuk kompos. Apabila harga pupuk NPK Phonska di tingkat petani sebesar Rp 4.000,00 per kg, maka petani dapat membeli pupuk kompos dengan hargaRp. 1.200,00 sebanyak 3.3 kg. Jadi dalam satu periode pemupukan petani menggunakan 2 kg pupuk kimia dan 3,3 kg pupuk kompos. Diharapkan penggunaan pupuk organik di lahan semakin meningkat, seiring kesadaran petani sawit akan pentingnya pupuk organik bagi lahan mereka.

Dalam membuat pupuk kompos, Kelompok Tani Subur Makmur Pangkalan Lada menggunakan Solid Sawit, Abu, Janjang Kosong Sawit, Kotoran Sapi, Serbuk Gergaji, Dolomit dan Dekomposer (Stardex). Proses pembuatan diawali dengan penirisan bahan (kadar air ±60%), pencampuran dan pengadukan bahan, pemeraman campuran (1 minggu) dan pembalikan yang diulang 4 kali, terakhir pengemasan dan pengiriman kepada petani sawit anggota.

Ditambahkan oleh Sutiyana saat ini kelompok tani yang dipimpinnya kewalahan dalam penyediaan pupuk kompos bagi anggota dan tidak melayani pesanan dari luar. Hal ini dikarenakan angota kelompok tani sudah merasakan dampak positif penggunan pupuk kompos terhadap produksi sawit di lahan mereka. Bambang Haryanto. BPTP Kalimantan Tengah. Dimuat di Sinar Tani Edisi 27 Agustus - 2 September 2014 No. 3571 Tahun XLIV