JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kenali dan Cegah Penyakit Bulai

Selain padi, jagung tetap menjadi target pemerintah untuk mencapai swasembada. Namun upaya tersebut bisa terganjal jika petani tak mampu mencegah serangan hama dan penyakit.

Salah satu penyakit yang harus diatasi adalah bulai. Penyakit ini bisa berdampak pada penurunan produksi dan produktivitas jagung. Tentunya berpotensi menghambat target pemerintah mencapai swasembada. Pada tahun 2015, Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung bisa mencapai 20 juta ton.

Penyakit bulai merupakan gejala dari serangan Oomycetes dari suku Peronosporaceae (downy mildew). Khususnya marga Peronosclerospora yang ditemukan pada berbagai anggota rumput-rumputan (Poaceae). Serangan penyakit tersebut telah merambah di seluruh dunia dengan cara menginfeksi tanaman inang. Bahkan di daerah tertentu di Indonesia sudah endemik.

Tanaman yang terinfeksi cendawan Peronosclerospora maydis ini bisa berakibat tidak menghasilkan biji sama sekali atau puso. Karena itu petani perlu mengetahui gejala penyakit tersebut, sehingga dapat mencegah atau meminimalisir serangan bulai pada tanaman jagung.

Pertama yang perlu diketahui petani adalah penyebarannya. Kelembaban dan suhu udara merupakan faktor yang berpengaruh kuat dalam perkembangan penyakit bulai. Kelembaban lebih 80%, suhu berkisar 28-30oC yang disertai embun ternyata dapat mendorong perkembangan penyakit tersebut.

Konidia/spora (sporangium) bulat hialin 19,2 x 17,0 mikrometer terbentuk pada jam 1-2 pagi apabila suhu 24oC dan permukaan daun tertutup embun. Konidia yang sudah masak akan dilepaskan melalui stomata di permukaan bawah daun. Disebarkan angin pada jam 2-3 pagi, kadang berlangsung sampai jam 6-7 pagi. Jika konidia jatuh pada permukaan daun yang berembun, akan segera berkecambah dan tanaman inang menjadi terinfeksi.

Penyebab dan Solusinya

Ada beberapa penyebab terjadinya serangan penyakit bulai pada tanaman jagung. Pertama, penanaman varietas jagung rentan bulai. Untuk mencegahnya adalah dengan menanam jagung dengan varietas unggul tahan bulai (berlabel, bersertifikasi) yang direkomendasikan dari hasil penelitian resmi (diakui).

Kedua, penanaman jagung yang selalu berkesinambungan. Solusi dengan pengaturan pola tanam agar memutus siklus hidup penyakit. Misalnya, rotasi tanaman/tumpang gilir (multiple cropping), jagung-padi-kedelai-jagung.

Ketiga, efektivitas fungisida rendah. Cara mengatasinya dengan aplikasikan fungisida asli (label) dari kios resmi sesuai rekomendasi secara baik dan benar. Keempat, tindakan eradikasi tidak dilakukan. Solusinya, dengan pemusnahan total inang tanaman jagung yang terinfeksi. Caranya dengan mencabut dan membakar tanaman terinfeksi.

Hal lain yang harus diperhatikan petani adalah berjalannya waktu yang relatif lama akan menyebabkan penyakit bulai resisten/tahan terhadap fungisida berbahan aktif metalaksil. Bahkan bisa terjadi peningkatan virulensi (kemampuan menyebabkan penyakit) bulai terhadap tanaman inang jagung.

Dengan demikian, menanam jagung pada waktu yang tepat secara serempak pada areal yang luas merupakan alternatif solusi bijak untuk mensikapi permasalahan tersebut.

Gejala untuk Dicermati

Bagian Tanaman

Penampakan Fisik

Daun

  • Garis-garis kuning pucat/putih (chlorotic) tampak pada tulang daun dengan batas yang jelas.
  • Pada daun tanaman berumur 3-5 minggu, warna akan menguning, menggulung, terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.
  • Pada daun tanaman berumur 2-3 minggu, warna menjadi kuning pucat/putih (chlorotic systemic) dan menyebar ke seluruh daun, selanjutnya kaku, sempit dan kering.
  • Daun yang tumbuh mengalami chlorotic jika infeksi sampai ke titik tumbuh.
  • Pada pagi hari, warna putih seperti tepung (berasal dari konidia dan konidiofor) di permukaan bawah dan atas daun tampak dengan jelas.
  • Pada serangan berat, seluruh tubuh tanaman berubah berwarna kuning pucat dan kerdil, akhirnya mati.

Akar

Perakaran terhambat perkembangannya, sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.

Tongkol

Tidak bisa tumbuh besar seperti seharusnya, tidak terbungkus kelobot secara penuh, ujung tongkol masih kelihatan. Kadang-kadang bijinya tak penuh atau ompong. Jika jamur menyerang tanaman inang yang berumur minimal satu bulan masih bisa tumbuh dan berbuah.

Sandis Wahyu Prasetiyo (BPTP Kalimantan Tengah)/Yul. Dimuat di Sinar Tani Edisi 14 - 20 Januari 2015 No. 3590 Tahun XLV