JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Arah Pengembangan Plasma Nutfah Kalimantan Tengah

Propinsi Kalimantan Tengah merupakan kawasan yang sangat strategis dengan letak geografis di daerah katulistiwa yaitu: 0º 44’55’’ Lintang Utara, 3º 47’70’’ dan 110º 43’19’’-115º 47’36’’ Bujur Timur. Luas wilayahnya 153.600 km yang terdiri atas hutan, rawa, sungai, danau, genangan air, pantai dan tanah lainnya. Iklim Kalimantan Tengah adalah iklim tropis lembab dan panas dengan suhu rata-rata 33º dan temperatur tertinggi dapat mencapai 36º.

Pulau ini merupakan pulau terbesar di Indonesia di ikuti Irian Jaya yang kaya akan berbagai jenis tanaman, mamalia, burung, reptil dan sebagainya. Propinsi ini merupakan asal berbagai anggrek spesies. Bahkan daerah Isein Mulang ini merupakan pusat pengobatan alternatif menggunakan tanaman obat berkhasiat lokal yang sudah dipergunakan secara turun temurun oleh masyarakat Dayak pedalaman. Tumbuhan berkhasiat obat yang ditemukan antara lain Akar Kuning, Bawang Dayak, Tabat Barito, Saluang Belum, Tawas Ut, Pasak Bumi dan berbagai jenis tanaman obat lainnya. Keberadaan plasma nutfah tanaman obat dan tanaman hias khususnya anggrek tentunya sangat membutuhkan perhatian yang sangat serius dalam melestarikan kekayaan alam ini sehingga keberadaannya tidak hanya tinggal nama saja di kemudian hari. Hendaknya paradigma eksploitasi pemanfaatan alam secara besar-besaran harus seimbang dengan perbaikan/reklamasi yang kita lakukan didalam pengelolaan sumber daya alam yang ada. Strategi yang kita lakukan harus mengarah kepada perbaikan ekosistem yang ada sehingga dapat memberikan manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi. Agar pengembangan plasma nutfah berhasil dan dapat memberi manfaat ekonomi dan ekologi diperlukan strategi dan perencanaan yang baik dengan prinsip:

  1. “Fokus” sumberdaya yang akan dikembangkan lebih terarah, efektif dan efisien
  2. “Menyeluruh” yaitu harus mencakup keseluruhan atau tidak mengabaikan komoditas tertentu
  3. “Komersial” dengan menyusun perencanaan terpadu pada komoditas terpilih melalui eksplorasi, inventarisasi, karakterisasi, evaluasi, koleksi, domestikasi, diseminasi hingga berujung pada komersialisasi
  4. “Fungsi Ekologi” Plasma nutfah yang berorientasi lingkungan guna mendukung rantai makanan, ketahanan OPT, cekaman air dan iklim regional maupun global.
  5. “Pengawasan Ketat” melalui pelaksanaan Perlindungan Varietas Tanaman sehingga tidak terjadi eksploitasi besar-besaran keluar Kalimantan Tengah yang saat ini marak terjadi khususnya untuk tanaman hias seperti anggrek yang sudah banyak diperjualbelikan dengan harga yang sangat murah.
Keseriusan dan perhatian pemerintah sangat diharapkan dalam pengembangan plasma nutfah yang ada, sehingga tidak hanya merupakan wacana tetapi harus bersifat ”action” dan pelaksanaanya terpadu antar lintas sektoral disipilin ilmu. Keberhasilan program diatas harus didukung oleh semua pihak terkait antara pemerintah dan masyarakat setempat, sehingga penyelamatan plasma nutfah marupakan tanggung jawab bersama kedepannya.

Belajar dari pengalaman terdahulu tentang adanya hak paten yang saat ini marak terjadi menginspirasi kita untuk lebih serius menghargai keberadaan plasma nutfah yang kita miliki. Bahkan dari hasil pengamatan dilapangan sudah banyak tanaman kita yang sudah di hak patenkan oleh negara lain khususnya untuk tanaman obat (seperti Pasak Bumi hak patennya sudah diambil Malaysa dengan naman Tongakat Ali) maupun tanaman hias sperti anggrek spesies yang hampir 75% sudah musnah.

Sikap pemerintah sampai saat ini belum terlalu serius menyikapi masalah plasma nutfah yang mengkwatirkan ini, terbukti dengan pengawasan yang hanya seadanya. Padahal kalau kita dapat memanfaatkan kekayaan alam ini khususnya tanaman obat akan dapat menambah PAD karena merupkan obat alternatif dengan harga yang lebih terjangkau. Kenyataan kalau Papua selangkah lebih maju dalam pemanfaatan Plasma Nutfahnya seperti obat merah yang sudah dikenal masyarakat luas……sudah sewajarnyalah Kalimantan Tengah memiliki obat asli daerah yang menjadi kebanggaan Kalimantan Tengah seperti Akar kuning, Bawang Dayak, Paku Ate maupun obat tradisional lainnya. Akhir kata penulis mengharapkan perhatian dari PEMDA untuk lebih memajukan Plasma Nutfah Kalteng untuk kepentingan bersama.

Oleh: Ronny Yuniar Br, Galingging, SP.,MSi Peneliti Muda
BPTP Kalimantan Tengah, Jln G.Obos km 5 Palangka Raya Tlp/Fax. (0536) 3220662 (Dimuat di Kalteng Post tanggal 7 Mei 2010)