JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Optimalkan Lahan Sawit untuk Tanam Jagung

Pemerintah mendorong budidaya jagung di areal perkebunan, termasuk kebun sawit, untuk mendongkrak produksi tanaman pangan nomor dua setelah padi ini. Tidak tanggung-tanggung, target luas tanamnya mencapai 1 juta hektar (ha).

Target pengembangan jagung di lahan perkebunan tersebut memang lebih ditujukan pada areal kebun yang tanamannya belum menghasilkan (TBM). Ketika pemerintah sedang menggaungkan program tersebut, ternyata sudah dilakukan Fajar Haryadi, Ketua Kelompok Tani Bina Bersama, Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

Jika selama ini petani kerap kurang intensif memelihara tanaman sawit, khususnya pada masa TBM. Dalam pemupukan, biasanya pola dan dosis yang petani berikan ke tanaman juga tidak sesuai yang direkomendasikan. Lahan juga kurang dijaga kebersihannya, sehingga memicu tumbuhnya gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman sawit.

Kenyataan tersebut mengakibatkan petani tidak mendapatkan nilai tambah. Petani juga tidak mendapatkan apa-apa selain menunggu sampai sawitnya panen dengan hasil seperti biasanya, relatif rendah.

Tapi itu tidak terjadi pada Fajar. Petani muda berusia 35 tahun ini justru memanfaatkan lahan di sela-sela kebun sawit TBM untuk budidaya tanaman jagung. Bersama anggota kelompoknya menerapkan inovasi tersebut di lahan sawit perkebunan rakyat seluas 2 ha.

Kelompok Tani Bina Bersama membuat tanggul atau pintu air di sungai yang berada di dekat lahan. selain bertujuan sebagai sarana irigasi saat kemarau yang berkepanjangan, juga untuk mengatur ketinggian muka air tanah agar saat kemarau tidak rentan terjadi kebakaran. Apalagi, tanah yang ditanami sawit merupakan tanah gambut.

Teknologi budidaya tanaman jagung yang diusahakan pun tidak terlalu rumit, namun taktis dan tepat. Menerapkan jarak tanam 75 cm x 25 cm dengan mengacu pada rekomendasi pemupukan Kalender Tanam Terpadu, tanaman jagungnya bisa tumbuh dengan baik dengan menghasilkan panen 5,70 t/ha jagung panen kering pipil.

Banyak Untungnya

Fajar mengungkapkan, ada beberapa keuntungan membudidayakan tanaman jagung sebagai sela tanaman sawit. Pertama, ada tambahan pendapatan, karena dalam waktu empat bulan sudah bisa panen jagung. Kedua, tanaman sawit lebih terawat karena terkena imbas dari perawatan tanaman jagung di sekitarnya. Misalkan pupuk untuk tanaman jagung juga diserap oleh tanaman sawit.

Keuntungan ketiga, terhindar dari kebakaran lahan. Dengan adanya tanaman jagung, petani menjadi sering menengok lahannya. Keempat, gulma di sekitar tanaman sawit berkurang, bahkan tidak ada. Sebab, areal di sekitar sawit telah ada tanaman jagung yang dibudidayakan, sehingga petani lebih memperhatikan kebersihan kebun.

“Selain menanam jagung, kami juga mulai menanam beberapa komoditas hortikultura seperti terong, mentimun, cabai, kangkung, kacang panjang, serta labu,” kata Fajar. Bahkan lanjut dia, Kelompok Tani Bina Bersama sudah berencana tidak hanya menanam jagung yang intensif di sela sawit TBM, tapi juga untuk komoditas hortikultura lainnya.

“Kami percaya, dengan meningkatnya aktivitas usaha tani perkebunan secara cerdas dan tepat sesuai inovasi teknologi, akan terjadi peningkatan produksi dan pendapatan,” tutur Fajar.

Catatan BPS Kotawaringin Barat (2015), saat ini perkebunan rakyat (Plantation) hanya mampu berproduksi 81.365,55 ton pada lahan seluas 43.280,79 ha. Sementara itu perkebunan besar swasta (PBS/Large Plantation) telah mampu berproduksi 851.327,11 ton pada lahan 129.767,55 ha. Dari nilai tersebut didapatkan produktivitas sebesar 1,88 ton/ha (Plantation), dan 6,56 ton/ha (PBS).

Sandis Wahyu Prasetiyo (BPTP Kalimantan Tengah)/Yul. Dimuat di Sinar Tani Edisi 25 - 31 Januari 2017 No. 3688 Tahun XLVII