JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Padi Lokal Dara Maayan Makanan Para Raja yang Terancam Punah

Secara umum pola usahatani padi di Kalimantan Tengah masih bersifat tradisional dengan menanam padi lokal yang berumur panjang sekali setahun. Walaupun tingkat produktivitas padi lokal tergolong rendah, namun rasa nasinya disukai dan sesuai dengan selera masyarakat, sehingga sulit diganti dengan varietas unggul yang terus berkembang.

Padi-padi lokal yang merupakan kekayaan Sumber Daya Genetik Kalimantan Tengah sangat banyak dan beragam, baik yang spesifik di lahan sawah maupun di lahan kering.  Sayangnya dari sejumlah jenis padi lokal yang ditemukan di setiap kabupaten, hanya jenis tertentu yang banyak ditanam dan berkembang di masyarakat, sedangkan yang jarang ditanam mulai sulit ditemukan, bahkan sudah terancam punah.

Sebutlah padi Ronik atau Dara Maayan asal Kabupaten Lamandau, yang memiliki karakter bentuk gabah yang sangat kecil, beraroma wangi dan pulen.  Dalam sejarahnya padi Ronik atau Dara Maayan merupakan makanan para raja di Kerajaan Kotawaringin (Lamandau saat masih bergabung dengan kabupaten Kotawaringin Barat), dan banyak ditanam di keluarga-keluarga istana. Seiring dengan waktu, keberadaan padi tersebut sulit ditemukan. Saat ini hanya terdapat satu keluarga petani yang menanamnya, sehingga Pemerintah kabupaten Lamandau memandang perlu untuk melindungi keberadaan padi Ronik atau Dara Maayan yang sudah terancam punah, yaitu dengan melakukan pendaftaran ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP).

Melalui pendampingan BPTP Kalimantan Tengah, pada tahun 2016 karakterisasi terhadap padi lokal tersebut telah dilakukan, dengan Diskripsi seperti dalam Tabel 1.

Tabel 1. Diskripsi varietas padi lokal Dara Maayan asal kabupaten Lamandau, 2017

No Bagian Tanaman Deskripsi No Bagian Tanaman Deskripsi
1 Tanaman:   5 Malai:  
  Tipe Tumbuh : Tegak   Tipe Malai : Kompak-sedang
  Tinggi Tanaman : 110-130 cm   Panjang Malai : 25-28 cm
  Lingkungan Tumbuh : Ladang   Poros Malai : Kuning
  Umur Tanaman : 135-145 hr 6 Gabah:  
  Umur Berbunga : 100-110 hr   Bentuk Gabah : Oval pendek
2 Batang:     Warna Gabah : Kuning
  Panjang Batang : 80-90 cm   Panjang Gabah : 0,8 mm
  Warna Batang : Hijau   Gabah Isi per Malai : 227 butir
  Warna Kaki : Hijau Muda   Panjang Beras Sosok : 0,7 mm
  Sudut Batang : Agak tegak   Warna Beras Sosok : Putih
  Warna Ruas Batang : Hijau   Kerontokan : Tidak Mudah
  Kerebahan : Tahan Rebah   Berat 1000 butir : 10 gr
3 Daun:   7 Sifat Khusus:  
  Warna Leher Daun : Putih   Daya Hasil : 1,5-2,5 t/ha
  Warna Daun : Hijau   Kadar Amilase : 8,55%
  Warna Daun Bendera : Hijau   Ketahanan HPT : Agak tahan wereng coklat dan blast
  Permukaan Daun : Halus   Jumlah Anakan : 10-15 anakan
  Sudut Daun Bendera : Terkulai   Pemupukan : Sisa bakaran
  Posisi Daun Bendera : Terkulai   Kerebahan : Tahan
  Warna Telinga Daun : Tidak Berwarna   Aroma di Pertanaman : Wangi
  Warna Lidah Daun : Tidak Berwarna   Aroma Gabah : Wangi
4 Bunga:     Aroma Beras/Nasi : Wangi
  Warna Benang Sari : Putih   Rasa Nasi : Pulen
  Warna Kepala Putik : Putih      
  Warna Lemma & Palea : Kuning      

Selanjutnya tahun 2017 (saat ini) bersama empat sumber daya genetik padi lokal lainnya asal kabupaten Lamandau yaitu Bunga Buluh, Kumpang Omas, Sehuwi dan Semondung sedang diajukan ke Pusat Pendaftaran Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP), untuk didaftarkan.  Kelima varietas padi lokal asal kabupaten Lamandau ini adalah padi-padi lokal spesifik lahan kering dan berlereng.