JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kenalkan Dunia Pertanian Sejak Dini

Sejumlah anak-anak usia 7-9 tahun berpakaian serba ungu memasuki halaman Kampus Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor. Mereka adalah siswa-siswi SDIT Insantama yang berkunjung ke kampus penyuluh pertanian yang berlokasi di Jl. Aria Surialaga No.1, Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor.

Mereka terlihat tampak antusias memasuki kampus pencetak penyuluh pertanian itu. Dengan bimbingan guru dan pegawai STPP Bogor, anak-anak berusia dini itu berkeliling kampus. Mulai dari laboratorium pascapanen pertanian, berfoto dengan traktor besar, bertanam cabai di gelas mineral hingga bermain di kolam ikan.

Di laboratorium pascapanen, anak-anak mendapat puding ubi dan es krim talas setelah diperkenalkan cara mengolahnya. Setelah itu mereka melihat langsung alat dan mesin pertanian. Bahkan terlihat antusias melihat traktor besar dan menyempatkan berfoto bersama.

Saat berada di kebun percobaan, anak-anak ini mendapat kesempatan belajar menanam cabai dalam gelas. Mulai dari mengisi dengan media tanam, lalu memberikan pupuk kandang hingga menanam bibit dan menyiram. Di kolam ikan, mereka diajak berlomba menangkap ikan. “Kita senang sekali bisa tahu cara menanam dan main sama ikan,” kata salah satu siswa kelas 2 SDIT Insantama, Abin.

Perwakilan guru pembimbing dari SDIT Insantama, Rizka Nur Fajriyah mengaku senang murid-muridnya mengikuti kegiatan mengenal dunia pertanian di STPP Bogor. Menurutnya, banyak kegiatan yang bisa ditindaklanjuti di sekolah nanti. “Banyak ilmu (pertanian) yang bisa kami ambil dari sini sehingga bisa kami lakukan di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Rizka menilai, kegiatan seperti ini menjadi pembelajaran nyata bagi anak-anak untuk mencintai hewan dan tumbuhan. Selain itu anak-aanak juga bisa menghargai proses bertani untuk mendapatkan makanan yang biasa dimakan sehari-hari.

Di SDIT Insantama menurut Rizka, ada program farming yaitu menanam hingga mengolah hasil pertanian. Tiap tahun ada lima kali pertemuan. Tahun ini programnya mengenal tanaman ubi kayu. “Anak-anak kita ajak bertanam, memanen sampai mengolahnya menjadi makanan,” ujarnya.

Agro Eduwisata

Mengenal dunia pertanian memang sebaiknya dari usia dini. Salah satunya mengajarkan anak-anak sekolah dasar cinta pertanian dalam bentuk Agro Eduwisata. Seperti Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor yang menerima kunjungan sebanyak 122 siswa-siswi kelas 2 SDIT Insantama.

Untuk diketahui, program Agro Eduwisata yang dicanangkan STPP Bogor merupakan kegiatan rutin sejak tahun 2014. “Program ini mendekatkan pembelajaran pertanian bagi anak-anak sekolah. Tidak sekedar menanam padi, tapi siswa juga diajari mengolah komoditi tersebut menjadi sesuatu yang bisa dikonsumsi. Secara sederhana namun mudah dipahami anak-anak,” tutur Kepala STPP Bogor, Nazaruddin kepada Tabloid Sinar Tani.

Setiap bulannya, beberapa sekolah selalu menghubungi pihak STPP untuk menentukan jadwal kunjungan. Pesertanya pun beragam mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat, Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, STPP Bogor, Achmad Musyadar mengatakan, program Agro Eduwisata ini bukan hanya menjadi program rekreasi, tapi bisa menjadi jalan menumbuhkan rasa cinta pertanian sekaligus menjadi titik awal membuka cita-cita menjadi petani (modern).

Kegiatan ini juga menjadi bentuk pengenalan pertanian usia dini, sehingga nantinya di sekolah bisa ada kelanjutan program seperti ini. Misalnya, Pengenalan Lingkungan Hidup (PLH) atau sekolah hijau. “Walikota Bogor pernah mencanangkan sistem pertanian kota (urban farming). Rumah atau sekolah diarahkan program menanam cabai dalam botol air mineral bekas,” tutur Achmad.

Pengenalan dunia pertanian memang bukan hanya untuk anak-anak yang berada di kota-kota besar. Di beberapa kota kabupaten kegiatan serupa juga dilakukan. Misalnya di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pemerintah Daerah bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Pertanian Kalimantan Tengah, serta Tim Penggerak PKK mengajak anak-anak dalam Gerakan Tanam Cabai.

Pada kesempatan itu, BPTP-Balitbangtan Kalteng mengenalkan tanaman cabai kepada anak-anak usia dini sekaligus membimbing mempraktekkan menanam bibit cabai secara baik dan benar. Seolah menemukan sebuah mainan baru, wajah mereka terlihat nampak senang.

Kepala BPTP-Balitbangtan Kalteng, F. F. Munir mengatakan, pengenalan edukasi pertanian memang harus diterapkan sejak dini pada anak-anak, sehingga memunculkan kecintaan terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya memanfaatkan pekarangan rumah agar selalu terlihat asri, indah dan menarik melalui budidaya berbagai macam komoditas hortikultura maupun komoditas lainnya. Tidak hanya cabai saja, tapi juga jenis tanaman lain misalkan terong, sawi, bunga kol, tomat, dan lain-lain.

Mengingat mereka adalah tunas bangsa sebagai penerus pembangunan pertanian, menurut Munir, perlu diarahkan pada sebuah mental yang mencintai lingkungannya. Karena itu diperlukan prilaku positif dari bagaimana pola atau cara berfikir mereka sejak usia dini.

“Pola pikir sejak kecil harus diajarkan nilai-nilai kebaikan, keberanian untuk bertindak, juga kebijaksanaan memilih sesuatu, sehingga diharapkan mampu membentuk karakter yang baik,” katanya. Bermuara dari itu, mari kita ajarkan anak-anak sejak dini mengenal dunia pertanian sebagai bentuk kecintaan terhadap alam dan lingkungan sekitar.

Gsh/Sandis/Yul. Dimuat di Sinar Tani Edisi 26 April - 2 Mei 2017 No. 3700 Tahun XLVII