JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Swasembada Beras Bukan Utopia

Berita tentang prestasi gemilang yang diraih pemerintah akhir-akhir ini sangat marak, dan sebagian masyarakat berpraduga sebagai kampanye politik teselubung. Parasangka sebagian masyarakat tersebut tidak lepas dari makin mendekatnya Pemilu 2009, sehingga kuat dugaan terjadinya manipulasi data. Tersiarnya prestasi gemilang tesebut tentunya menguntungkan bagi pejabat pemerintah dan partai yang mengusungnya. Prestasi gemilang yang tak urung diragukan adalah tercapainya swasembada beras.

Kabupaten Swasembada Beras

Guna mengetahui tingkat swasembada beras ada cara yang cukup sederhana, yaitu membandingkan kebutuhan beras yang dihitung dari jumlah penduduk dan konsumsi beras per kapita per tahun dengan jumlah produksi beras yang diperoleh dari konversi gabah kering giling. Selain itu diperhitungkan pula persentase gabah dan beras yang tercecer. Jika produksi beras melebihi konsumsi penduduk, maka daerah tersebut berswasembada beras untuk konsumsi, namun jika sebaliknya maka daerah tersebut belum berswasembada beras.

Data lima tahun (2002 – 2006) menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah telah berswasembada beras, kecuali tahun 2002. Surplus beras tertinggi diperoleh pada tahun 2004 sekitar 96 ribu ton, sedangkan tahun 2006 surplus sekitar 25 ribu ton.

Kabupaten yang berswasembada beras pada seluruh kurun waktu tersebut yang tertinggi diraih Kabupaten Kapuas, diikuti Pulang Pisau, Lamandau, Barito Timur, dan Barito Utara;. Jika dipersentasekan, maka kabupaten yang tersebut itu memiliki persentase rata-rata kurun tersebut masing-masing 286, 219, 167, 145, dan 114%. Swasembada beras tercapai jika perbandingan antara kebutuhan beras dan produksi beras sama atau melebihi 100%, sedangkan jika kurang dari 100% tergolong daerah tidak berswasembada beras (Tabel 1).



Sumbangan swasembada beras umumnya didukung oleh produksi padi sawah, kecuali Kabupaten Barito Utara dan Lamandau peranan padi ladang lebih mendominasi.

Swasembada Regional Kalimantan

Swasembada beras tingkat regional Kalimantan pada periode yang sama, tiga provinsi diantaranya telah berswasembada beras, dimulai dari Kalsel dengan rata-rata persentase swasembada beras sebesar 208%, Kalteng sebesar 113%, dan Kalbar sebesar 112%, kecuali pada tahun 2002 Kalteng belum swasembada beras. Provinsi Kaltim yang belum sekalipun menempati posisi swasembada beras, dengan nilai rata-rata sebesar 77%. Data dan fakta ini menunjukkan bahwa prestasi yang diraih Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah hingga mendapatkan penghargaan dari Presiden RI cukup beralasan.

Swasembada Beras Nasional

Swasembada beras tingkat nasional pada kurun waktu yang sama menunjukkan bahwa Indonesia memproduksi beras melebihi kebutuhan penduduknya. Bahkan yang lebih menggembirakan lagi, provinsi tetangga kita yaitu Kalsel menempati ranking tertinggi swasembada beras, disusul Sulsel dan Sumbar, masing-masing sebesar 208, 198, dan 187%. Kalimantan Tengah menempati urutan 13 dari 16 propinsi yang tergolong berswasembada beras.

Prestasi ketahanan pangan yang diraih tersebut cukup lanyak dipertahankan dan ditingkatkan, meskipun nantinya masa kampanye dan pemilu telah usai. Dampak positif dari pemilihan umum secara langsung nampaknya memacu individu usungan partai politik untuk berprestasi luar biasa, sebab keberhasilan mereka mengamankan ketahanan pangan akan menjadi salah satu yang diperhitungkan masyarakat dalam Pemilu 2009.

Oleh:
Dr. M Anang Firmansyah SP.,M.Si

Download pdf