JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sapi Lokal Kalimantan Tengah Sumberdaya Lokal Potensial Yang Belum Termanfaatkan Secara Optimal

Kalimantan Tengah setiap tahun harus mendatangkan ternak sapi potong dari luar propinsi sekitar 3000 ekor sebab produksi lokal hanya mampu memenuhi sekitar 45-50% dari total kebutuhan (Samara, 2006), disisi lain pemerintah secara nasional menargetkan akan tercapainya swasembada daging sapi pada tahun 2014 dan untuk Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2014 populasi sapi potong ditargetkan mencapai 6.770 ton, padahal prediksi populasi sapi potong di Kalimantan Tengah pada tahun 2010 baru mencapai 3.681 ton. Kondisi ini terkadang membuat pesimis berbagai pihak, untuk itu perlu berbagai upaya dan kerja keras semua pihak dan yang paling penting adalah bagaimana potensi sumberdaya lokal yang ada di daerah bisa termanfaatkan secara optimal, baik sumberdaya genetik maupun sumberdaya lahan dan pakan lokal. Berdasarkan aspek pewilayahan Kalimantan Tengah mempunyai potensi besar untuk pengembangan peternakan dilihat dari luas lahannya (153.564 km2) yang terdiri dari lahan pasang surut (rawa) 5,5 juta ha dan lahan kering 7,7 juta ha dan ketersediaan pakan lokal yang melimpah. Luas lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan seluas 1.158.500 ha belum termasuk daerah rawa. Potensi pakan untuk wilayah Kalimantan Tengah sebenarnya tidak menjadi masalah, menurut Samara (2006), potensi rumput alam mampu menampung pengembangan ternak 2,5 juta ekor sapi, belum lagi hasil dari limbah pertanian tanaman pangan, sayuran, hortikultura dan perkebunan.

Selain itu ternyata Kalimantan Tengah juga memiliki sapi lokal yang oleh masyarakat setempat (suku Dayak) dinamakan juga sapi lokal, berbeda dengan sapi lokal lainnya mereka menyebut sesuai dengan nama asal dari sapi tersebut, misalnya sapi Bali. Dengan kata lain sapi lokal Kalimantan Tengah belum memiliki nama, namun beberapa orang menyebut sesuai dengan nama Daerah Aliran Sungai (DAS) dimana sapi tersebut hidup. Sapi-sapi tersebut hanya dipelihara oleh masyarakat setempat (suku Dayak), sedangkan sapi-sapi lokal lainnya seperti sapi Bali (dominan), sapi Madura dan sapi PO kebanyakan dipelihara oleh masyarakat pendatang (transmigrasi).

Asal usul sapi lokal Kalimantan Tengah sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti. Sapi-sapi tersebut dipelihara secara ekstensif di padang gembalaan yang relatif luas dalam bentuk ranch-ranch. Keberadaan sapi sudah puluhan tahun dan sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang lahannya tergolong asam dan miskin mineral. Menurut Made (2008), sapi tersebut bisa dijumpai di Kabupaten Katingan dan Gunung Mas dan diperkirakan juga ada di Kabupaten Seruyan. Dilaporkan populasi sapi lokal di Kabupaten Katingan sekitar 1500 ekor. Dalam pengembangannya sapi lokal mengalami beberapa hambatan, salah satunya adalah masih sedikitnya informasi, terutama data dasar tentang sistim produksi dan reproduksi, keadaan lingkungan, daya tampung lahan dan keterampilan petani yang mengelola. Padahal informasi-informasi tersebut sangat penting artinya karena erat kaitannya dengan keberhasilan pelestarian dan pengembangannya di masa yang akan datang.

Sapi lokal Kalimantan Tengah memiliki potensi besar sebagai ternak potong, karena sapi ini mampu beradaptasi dengan lingkungan Kalimantan Tengah yang asam dan miskin mineral, mempunyai produktivitas yang cukup baik pada kondisi pemeliharaan ekstensif tradisional, relatif tahan terhadap berbagai macam penyakit dan parasit serta mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi, sayangnya potensi ini belum termanfaatkan secara optimal, bahkan banyak orang Kalimantan Tengah yang tidak tahu bahwa Kalteng punya sapi lokal yang potensial untuk dikembangkan. Sapi lokal Kalimantan Tengah perlu mendapat perhatian yang serius dari segenap insan peternakan mengingat sapi ini merupakan asset daerah dan plasma nutfah yang belum terekspose dan termanfaatkan dengan optimal. Dengan keunggulan yang dimiliki oleh sapi lokal Kalimantan Tengah memungkinkan sapi ini untuk dikembangkan di segenap penjuru Kalimantan Tengah yang sangat luas, sehingga tidak ada lagi lahan terlantar yang tidak termanfaatkan. Hal ini tentunya juga sangat mendukung program pencapaian swasembada daging sapi 2014 yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia, semoga! by Adrial (
Dimuat di Kalteng post tanggal 15 Juli 2010)