JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Artikel


Sutiyana Meramu Pakan dari Limbah Sawit

Sutiyana, Ketua Poktan Subur MakmurPembawaannya ramah, kalem, tenang dan santun. Namun di balik ketenangannya Sutiyana  (44 tahun),  petani asal Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, berhasil membawa kelompok tani ini menjadi kelompok tani  berbasis integrasi sawit-sapi terbaik di Indonesia, untuk kategori plasma.

Jika merunut kebelakang, pada tahun 2010 kelompok tani dimana ia menjadi ketuanya ini mendapat bantuan dari Dinas Perkebunan (Disbun)  Kotawaringin Barat,  berupa 50 ekor sapi, bibit hijauan makanan ternak (HMT), mesin pencacah (chopper), dan sarana kandang. Selanjutnya Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kobar memberikan bantuan sebanyak 20 ekor sapi, mixer, kandang, HMT dan chopper untuk  kompos. Saat ini sapi sudah berkembang menjadi 110 ekor yang dipelihara oleh tiga orang. Bantuan sapi ini merupakan bantuan bergulir dan sudah siap untuk menggulirkan ke kelompok yang lain.

Menengok Integrasi di Pulau Borneo

Bukan dua hal yang saling bertentangan, justru saling menguatkan. Itulah gambaran hubungan antara sapi dan sawit. Integrasi kebun kelapa sawit dan ternak sapi ibarat sismbiosis mutualisme (saling menguntungkan)

Perkebunan kelapa sawit menghasilkan limbah seperti pelepah, daun, lumpur sawit (solid decanter), janjang kosong, serabut sisa perasan buah serta bungkil inti sawit (BIS). Limbah-limbah tersebut bisa menjadi bahan baku pakan ternak.

Di Indonesia potensi tersebut sangatlah besar, termasuk di Pulau Kalimantan. Luas perkebunan sawit di Pulau Borneo mencapai 7,5 juta ha. Dari luasan tersebut yang sudah berproduksi hampir 1,5 juta ha, dengan laju luas tanam 12,6 persen per tahun.

Enaknya Menambah Sapi Pejantan

Sapi pejantan milik Harto (tengah), di trans Buntut Bali, Katingan “Enak juga punya sapi pejantan, untungnya dobel, dari sapi dan dari ongkos kawin sapi betina.” Begitulah kira-kira yang ada di benak pemilik sapi betina. Karena untuk mengawinkan ternaknya sampai bunting, harus membayar 300 ribu kepada pemilik sapi pejantan, seperti yang dialami Kojin (40 tahun), peternak di daerah Ampah, Barito Timur. “Satu pejantan rata-rata untuk 20 ekor betina,” tambah Kojin.

Setali tiga uang dengan penuturan Harto (50 tahun), peternak yang tinggal di daerah transmigrasi Buntut Bali, Kabupaten Katingan, harus menolak penawaran untuk menjual sapi pejantannya dengan harga tinggi. “Ada yang mau membeli sapi saya untuk upacara sembahyang hindu kaharingan yaitu tewah, mereka akan membayar sesuai harga yang saya minta, tanpa tawar-menawar, tapi saya menolaknya, jika saya menerima maka saya membantu satu orang tapi mengorbankan kepentingan orang banyak,” ungkapnya dengan bijak. Hal ini karena sapi pejantannya adalah satu- satunya yang ada di kampungnya.