JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Artikel


Sebutir Nasi, untuk Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi,merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (UU Pangan No.18 Tahun 2012).

Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  setiap bulan Oktober, tepatnya tanggal 16 Oktober yang yang ditetapkan oleh FAO (Food and Agriculture Organization)/ organisasi pangan dan pertanian dibawah PBB pada tahun 1979. Tahun ini peringatan HPS secara nasional akan dilaksanakan di Padang tanggal 24-27 Oktober 2013. HPS menjadi  momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat akan pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia maupun dunia.

Dukungan BUMN Terhadap Ketahanan Pangan Oleh: Dahlan Iskan Menteri Negara BUMN

Lupakan gerbang tol. Ada yang lebih aktual yang harus kita dukung: pengadaan beras oleh Bulog. Saat ini petani sedang panen raya. Dukungan atas tindakan saya yang keras dalam mengatasi kemacetan di pintu-pintu tol memang mendapat dukungan luas (10 persen lainnya mengecam saya sebagai sekadar melakukan pencitraan), tapi Bulog juga harus terus didorong untuk berubah.

Hari-hari ini Bulog sedang all-out terjun ke sawah. Di musim panen raya sekarang ini Bulog tidak mau lagi disebut sekedar menjadi “tukang tadah”. Saat ini Bulog mulai berani membeli gabah langsung dari petani. Tidak hanya membeli gabah melalui para tengkulak. Kali ini Bulog mencoba belajar menjadi “tengkulak” itu sendiri. Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, langsung terjun ke sawah-sawah

Kearifan Lokal Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Usahatani dalam Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim di Kalimantan Tengah

Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) salah satunya CO2 diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim secara global. Kondisi hujan sepanjang tahun menyebabkan banjir diberbagai belahan dunia sangat mengancam produksi pangan, begitu pula kemarau yang berkepanjangan.

Emisi CO2 nampaknya lebih tinggi dihasilkan pada agroekosistem tanah gambut dibandingkan tanah mineral, perbandingannya hampir sepuluh kali lipat. Kalimantan Tengah memiliki tanah gambut cukup luas mencapai 5,8 juta hektar dengan cadangan CO2 sebesar 1.954 t/ha (Las et al, 2011).

Pelepasan CO2 makin intensif jika di agroekosistem gambut dibuat saluran drainase, Penelitian menunjukkan bahwa pembuatan saluran drainase sedalam 60 cm di lahan gambut untuk perkebunan mampu mengemisikan CO2 sebesar 55 t/ha/th (Hooijer et al ., 2006 dalam Las et al ., 2011). Selain itu pembakaran lahan secara tradisional di berbagai tempat menyebabkan emisi dan subsiden tanah gambut relatif tinggi (Agus dan Subiksa, 2008).