JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PENGURANGAN EMISI CO2 MELALUI AMELIORASI PADA INTERCROPPING KARET DAN NANAS DI LAHAN GAMBUT JABIREN, KALIMANTAN TENGAH

ABSTRAK

Alih fungsi lahan gambut, khususnya untuk budidaya tanaman pertanian akan mengurangi stabilitas dan mempercepat proses dekomposisi. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya agar emisi GRK terutama CO2 di lahan gambut dapat dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan manajemen pengelolaan lahan gambut berkelanjutan khususnya pada sistem intercropping yang dipadukan dengan penggunaan amelioran pada demplot seluas 5 ha di Desa Jabiren, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Sistem intercropping yang diamati adalah karet dan nanas, dengan perlakuan bahan amelioran pupuk gambut A, pupuk gambut T, pupuk kandang ayam, dan bahan tanah mineral. Pengukuran emisi gas CO2 dilaksanakan setiap minggu selama 4 bulan (Mei – Agustus) dengan menggunakan Micro GC CP 4900 Varian. Sampel gas diambil dari piringan tanaman karet, antar tanaman karet dan di sela tanaman nanas masing-masing diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks CO2 pada piringan tanaman karet yang terendah adalah pada perlakuan pemberian amelioran pupuk kandang, yaitu sebesar 350,2 mg CO2 m-2 jam-1, kemudian berturut-turut adalah perlakuan Pugam A < Pugam T < Kontrol < tanah mineral masing-masing sebesar 409,4 ; 411,5 ; 495,1 ; dan 497,1 mg CO2 m-2 jam-1. Pada tanaman nanas fluks terendah adalah pada perlakuana meliorasi berupa Pugam T yaitu sebesar 315,1 mg CO2 m-2 jam-1, kemudian berturut-turut adalah perlakuan Pukan < Pugam A < Tanah mineral < kontrol masing-masing sebesar 344,3 ; 370,9 ; 380,4 ; 423,5 mg CO2 m-2 jam-1. Persentase penurunan emisi tertinggi (36% ) terdapat pada pertanaman nanas dengan pupuk gambut T sebagai amelioran.

Kata kunci: CO2, emisi, gambut, karet, nanas

Oleh: M. Ariani, W.A. Nugraha, A. Firmansyah, D. Nursyamsi dan P. Setyanto