JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Model Pemupukan Spesifik Lokasi Bilungka Masak (Timun Suri)

Timun suri (Bhs Banjar: bilungka masak) sebagai komoditas buah segar cukup menjanjikan keuntungan saat dipanen di bulan puasa Ramadhan. Namun belum terdapat Model Pemupukan Spesifik Lokasi (MPSL) untuk timun suri di lahan pasir kuarsa (quartzipsamment). Tiga peneliti BPTP Kalteng Yaitu M. Anang Firmansyah, Wahyu Adi Nugroho dan Nurmili Yuliani mencoba memberi solusi masalah tersebut. Timun suri ditanam pada 2 Juli 2010 dan panen perdana pada tanggal 14 Agustus 2010 (3 Ramadhan 1431 H) atau 45 hari setelah tanam. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan MPSL baik pupuk organik maupun pupuk kimia yang mampu memberikan hasil agronomis dan kelayakan finansial terbaik untuk usahatani timun suri. Perlakuan terdiri dari 3 model pemupukan, yaitu MPSL-1 yaitu model pemupukan yang biasa digunakan petani, MPSL-2 yaitu model pemupukan dimana dosis pupuk petani ditingkatkan satu kali lipat, dan MPSL-3 yaitu model pemupukan dimana dosis pupuk petani ditingkatkan tiga kali lipat. 


Tabel 1. Perlakuan Model Pemupukan Spesifik Lokasi pada Tanaman Timun Suri di Tanah Pasir Kuarsa Palangka Raya

Keterangan : MPSL = Model Pemupukan Spesifik Lokasi, lb = lubang tanam, HST = Hari Setelah Tanam.

Selain aplikasi perlakuan model pemupukan juga dilakukan pemeliharaan tanaman, yaitu:
  • Pemberian pupuk daun Grow More (GM) sebanyak 15 ml dan NPK (16:16:16) sebanyak 100 gr, keduanya dilarutkan kedalam 15 liter air, diberikan ke lubang tanam sebanyak dua kali yaitu pada saat tanam dan pada tanaman berumur 24 HST.
  • Pemberian pupuk organik cair (Lodrin) sebanyak 1.500 cc yang terbagi dalam tiga tahapan pemberian yaitu pada saat tanaman berumur 14 HST, 16 HST, dan 21 HST.
  • Pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan penyemprotan Demolis dan Capture 50 EC pada umur tanaman 2 HST. Penyemprotan Delause 200 SL pada umur tanaman 6 HST. Penyemprotan Klensect pada umur tanaman 14 HST, 16 HST, dan 21 HST.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa parameter agronomi timun suri tidak dipengaruhi secara nyata oleh peningkatan model MPSL, namun terdapat kecenderungan bahwa model pemupukan MPSL-2 memiliki hasil buah timun suri terbaik yaitu 425 kg/600m2, sedangkan MPSL-3 sebesar 378 kg/600m2 dan MPSL-1 sebesar 310 kg/600m2. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa nilai B/C ratio model MPSL-2 tertinggi yaitu 1,87, disusul MPSL-1 sebesar 1,39 dan MPSL-3 sebesar 1,24. Berdasarkan B/C ratio menunjukkan bahwa semua model paket pemupukan menunjukkan kelayakan untuk dilanjutkan, namun model MPSL-2 lebih baik daripada model lainnya. Gambar timun suri diatas merupakan buah terbesar dengan berat 6 kg, panjang 50 cm, dan bergaris tengah 13 cm, dimana berat rata-rata umumnya hasil pengkajian 2,5 kg (Dr. A).