JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jagung Manis di Tanah Liat Putih (Kaolin)

Hidup di lingkungan lahan marjinal membuat pilihan menjadi terbatas, alternatif tidak banyak dan memaksa kita menguras pikiran, modal, dan tenaga agar lahan tersebut menjadi produktif. Lahan marjinal yang memiliki produksi dibawah rata-rata dan tidak menguntungkan secara ekonomis untuk budidaya pertanian harus diperbaiki. Di Palangka Raya maupun di Kalimantan Tengah banyak terdapat kawasan budidaya pertanian produktif yang semula berasal dari lahan marjinal. Kawasan tersebut selain di tanah gambut, tanah pasir kuarsa, podsolik merah kuning, ada pula tanah liat putih yang umumnya terletak dilapisan tanah bawah atau subsoil yang dikenal sebagai kaolin.

Kaolin adalah material berukuran lempung halus yang memiliki kadar besi yang rendah, berwarna putih atau agak keputihan. Kaolin umumnya tersusun dari mineral kaolinit, nakrit, dikit, dan haloisit (Al2(OH)4SiO5.2H2O) dengan kekerasan 2-2,5 skala mosh, dan berat jenis 2,6-2,63. Palangka Raya memiliki cadangan kaolin sekitar 14 juta ton. Kaolin cocok untuk pembuatan keramik, kualitas kaolin tersebut memiliki kadar SiO2 42 – 70%, Al2O3 5 – 36%, Fe2O3 0,3 – 3,2%, TiO2 0,01 - 2,64%, dan MgO 0,08 – 1,45% (BKPM, 2010).

Beberapa petani di Palangka Raya memanfaatkan tanah kaolin yang berasal dari galian excavator untuk lahan bercocok tanam. Lahan ini memiliki kendala pengolahan yang berat, karena lengket bila basah dan keras bila kering. Untuk menghancurkan bongkahan tanah kaolin hingga siap tanam di luasan 300 m2 dibutuhkan waktu sebulan dengan dua tenaga kerja.

Umumnya liat putih kaolin terletak di bawah permukaan tanah (subsoil).


Guna mengetahui daya dukung kaolin terhadap tanaman budidaya, maka peneliti BPTP Kalteng M. Anang Firmansyah pada bulan Juli - September 2010 melakukan 2 kajian sekaligus di 2 lahan petani kooperator. Kajian pertama untuk melihat daya dukung pupuk kandang ayam di tanah kaolin dan kajian kedua adalah demplot pemupukan berimbang di tanah kaolin. Tanaman indikator adalah jagung manis (Sweet Boy). Kajian pupuk kandang ayam digunakan rancangan RAK 4x3, dengan luas satuan petak percobaan 4x5m, perlakuan berbagai dosis pupuk kandang; P1=4 t/ha; P2=8 t/ha; P3=12 t/ha; dan P4=16 t/ha, dan hanya dilakukan pemupukan urea sebanyak 520 kg/ha diberikan dalam 2 tahap. Kajian demplot pupuk berimbang digunakan luasan total 280 m2 dengan pemberian urea sebanyak 780 kg/ha, SP-18 200 kg/ha, KCl 300 kg/ha, dan pupuk kandang ayam 4 t/ha. Hasil kedua kajian tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kajian Daya Dukung Tanah Kaolin untuk Produksi Jagung Manis
Perlakuan
Berat tongkol berklobot
Berat tongkol bersih
Panjang tongkol berklobot
Panjang tongkol bersih
Diameter tongkol berklobot
Diameter tongkol bersih
Berat brangkasan panen

(gr/tgkl)
(gr/tgkl)
(cm/tgkl)
(cm/tgkl)
(cm/tgkl)
(cm/tgkl)
(kg/tnm)
Kajian pupuk kandang ayam
P1
180
123
24,2
12,7
4,59
4,06
0,26
P2
240
172*
25,7
14,6
5,15**
4,4
0,41
P3
243
174*
25,2
14,8
5,17**
4,51
0,36
P4
271
189**
26,6
15,4
5,32**
4,39
0,33
Demplot
Pupuk berimbang
333,3
212,5
28
16,8
6,3
4,7
-
Keterangan: * Beda nyata pada taraf BNT 5%, ** beda nyata pada taraf BNT 1%.


Kajian pertama menunjukkan ada perbedaan nyata pada berat tongkol bersih dan diamater tongkol berklobot. Umumnya peningkatan dosis pupuk kandang ayam meningkatkan parameter produksi yang diamati, dan dosis petani (P1) menunjukkan hasil yang lebih rendah. Jika di konversi ke hektar dengan jarak tanam 30x75 cm maka diperoleh tongkol berklobot hingga 12 t/ha dan tongkol bersih 8,4 t/ha, saat ini (24 September 2010) harga jagung manis tongkol bersih dipasar pagi Martapura Palangka Raya mencapai Rp. 5000,-/kg.

Hasil Demplot pemupukan berimbang ternyata jauh lebih baik dibandingkan pemupukan tidak berimbang (karena pupuk kimia sering langka). Produksi tongkol ber klobot mampu mencapai 14,8 t/ha dan tongkol bersih mencapai 9,4 t/ha.

Keragaan tanaman jagung manis umur 14 hari setelah tanam di tanah kaolin, Palangka Raya.


Kajian ini membuktikan bahwa lahan marjinal tidak selamanya marjinal, pengelolaan yang baik akan merubah lahan tersebut menjadi produktif. (Dr. M. Anang Firmansyah – Peneliti BPTP Kalimantan Tengah).