JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Burung Hantu Pengendali Tikus Secara Hayati

Pengendalian Hama Tikus dengan Burung Hantu di Pati, Jawa Tengah Foto: http://babalangabus.blogspot.comTikus  sawah  (Rattus argentiventer) adalah  hama utama padi di Indonesia.  Kehilangan  hasil  akibat serangan tikus sawah diperkirakan dapat mencapai 200.000-300.000 ton per tahun (Anonim, 2012). Di Kalimantan Tengah, tikus juga merupakan hama utama pada tanaman padi. Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan surplus beras 10 juta ton, pengendalian hama tikus harus diutamakan karena serangan hama tikus tersebut sudah merajalela di hampir semua wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.

Kerusakan yang diakibatkan hama tikus cukup luas dan hampir terjadi setiap musim. Tikus menyerang semua stadium tanaman padi, baik vegetatif maupun generatif, sehingga menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti. Pada saat padi dalam fase vegetatif, seekor tikus mempunyai  kemampuan  untuk  merusak antara 11-176 batang padi per malam. Sedangkan pada fase generatif (bunting hingga panen) semakin meningkat menjadi 24-246 batang per malam. Pada tingkat kerusakan yang berat, biasanya hanya tersisa beberapa baris tanaman terutama pada bagian tepi (Direktorat Bina Perlindungan Tanaman, 1992 dan 2001 dalam Melhanah   et   al,   2012).   Tikus sebagai binatang pengerat, memenuhi kebutuhan hidupnya mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, yaitu 5 batang padi  dikerat  hanya  untuk  mengasah giginya agar tidak bertambang panjang dan 1 batang padi dimakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Imanadi L., 2012).

Tikus sawah tinggal di persawahan atau di lingkungan sekitar sawah. Daya adaptasi hama ini sangat tinggi, sehingga mudah tersebar baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Tikus membuat lubang sebagai tempat berlindung dan berkembang biak, juga membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi. Makanan yang paling disukai tikus adalah biji-bijian/padi yang tersedia di persawahan. Tikus suka berpindah sarang yaitu di pemukiman. Hal ini biasanya terjadi pada saat kondisi bera.

Kerusakan yang diakibatkan oleh tikus bervariasi tergantung dari stadium tanaman yang dirusaknya, hal tersebut dipengaruhi oleh tinggi rendahnya populasi tikus yang ada di persawahan. Berdasarkan data dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan  dan  Hortikultura  (BPTPH) Provinsi   Kalimantan   Tengah,   kumulatif luas serangan hama tikus per musim tanam se-Kalimantan Tengah pada tahun 2011 mencapai 742,06 Ha. Luas serangan hama tikus terluas adalah di Kabupaten Barito Selatan yang mencapai 209 Ha, dengan berbagai tingkat kerusakan baik ringan, sedang, berat dan puso.

Upaya  untuk  mengendalikan hama tikus sudah banyak dilakukan oleh para petani, seperti sanitasi, kultur teknik, fisik, mekanik, kimia dan hayati. Tetapi cara-cara   pengendalian   tersebut   belum dilakukan  secara  terpadu,  sehingga harapan   untuk   menekan   populasi   tikus pada tingkat yang tidak merugikan ternyata sulit dicapai. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dapat terlaksana dengan baik jika petani memahami dan menguasai berbagai cara pengendalian sesuai dengan jenis organisme pengganggu dan ekosistem pertaniannya.

Salah satu cara pengendalian tikus yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan burung hantu (Tyto alba). Burung  hantu  merupakan  musuh  alami yang dapat memberikan prospek yang baik dalam mengendalikan tikus. Pemanfaatan burung hantu adalah cara pengendalian tikus yang ramah lingkungan, karena dengan memanfaatkan burung hantu, lingkungan tidak akan tercemar oleh racun ataupun zat polutan lainnya. Burung hantu aktif pada malam hari (nocturnal), tidak bersifat migratory, dapat dikembangkan di areal persawahan, dapat bersarang pada kandang buatan (gupon) dan umumnya sebagai binatang penetap 1,6 – 5,6 km sekitar sarang.

Burung  hantu  adalah  predator yang cukup ganas yang dapat mengejutkan mangsanya. Burung hantu mampu mendeteksi mangsa dari jarak jauh, mampu terbang cepat, mempunyai kemampuan untuk  menyergap  dengan  cepat  tanpa suara, memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 meter. Sifatnya yang nocturnal (mencari makan di malam hari) membuatnya menjadi predator ideal untuk hama tikus.

Tikus salah adalah satu makanan spesifik burung hantu. Burung hantu dewasa dapat memangsa tikus sebanyak 2-5  ekor  tikus  setiap  harinya.  Jika  tikus sulit   didapat,   tak   jarang    burung   ini menjelajah kawasan berburunya hingga 12 km dari sarangnya. Keuntungan mengendalikan tikus dengan burung hantu, yaitu a) mampu menekan populasi tikus secara efektif, b) tidak      berdampak      negatif      terhadap lingkungan, c) tidak memerlukan biaya dan tenaga yang besar, d) meningkatkan efisiensi waktu petani dan dapat dimanfaatkan oleh beberapa petani (Imanadi, 2012). Dengan melihat beberapa keuntungan tersebut, burung hantu dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengendalikan  tikus  di  Kalimantan Tengah.

Peran pemerintah atau Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan sangat penting dalam mendukung pengendalian tikus dengan memanfaatkan burung hantu. Diharapkan instansi-instansi tersebut dapat membantu anggaran bagi pembudidayaan burung hantu bagi petani. Berhasilnya petani membudidayakan burung hantu maka akan menghemat biaya pengeluaran untuk membeli burung hantu. (Sri)