JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknik Produksi Benih Sumber Padi

Pendahuluan

Sistem perbenihan padi yang tangguh dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjamin pemenuhan prinsif 6 tepat: tepat jumlah, varietas, mutu, waktu, lokasi dan harga. Peran para pelaku usaha perbenihan (penangkar benih) dalam penyediaan benih bermutu sangat penting.

Benih sumber yang akan digunakan untuk pertanaman produksi benih harus satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akan diproduksi. Benih kelas FS yang akan diproduksi, benih sumbernya adalah benih kelas BS (Breeder Seed/ benih penjenis), sedangkan untuk memproduksi benih kelas SS/BP, boleh menggunakan benih kelas FS.

Pemeriksaan benih sumber, mencakup sertifikasi benih yang berisi informasi asal benih, varietas, tanggal panen maupun mutu benih (daya kecambah, kadar air, dan kemurnian fisik benih). Informasi ini diperlukan sebagai kelengkapan proses pengajuan sertifikasi benih. Secara umum tidak terdapat perbedaan budidaya untuk tujuan produksi benih dengan konsumsi.

Perhatian dalam Perbenihan

Kegiatan produksi dilakukan di sentra produksi, pada lahan subur dengan pengairan memadai, dan tidak dilokasi endemik hama penyakit.

- Penanaman dilakukan pada saat yang tepat. Tanam lebih awal atau terlambat menyebabkan tanaman berpotensi diserang hama dan penyakit. Tanam serempak pada satu hamparan dapat menekan tingkat serangan hama penyakit.

- Pemeliharaan dilakukan optimal. Penyiangan yang terlambat, menghambat pertumbuhan tanaman akibat persaingan dengan gulma.

- Panen dilakukan saat yang tepat. Penundaan waktu panen dapat menyebabkan hilangnya sebagian hasil pada saat panen. Penanganan pascapanen dengan tepat sangat penting untuk mendapatkan benih yang bermutu.

Teknologi Perbenihan Padi

1. Pemilihan Lokasi

Lahan produksi benih adalah lahan bera atau bekas pertanaman varietas  yang sama. Kondisi lahan subur, drainase baik, bebas dari sisa-sisa tanaman. Isolasi jarak minimal antara 2 varietas berbeda adalah 3 meter, bila tanpa isolasi jarak perlu dilakukan isolasi waktu tanam sekitar 4 minggu

2. Persemaian Padi

  • Tanah diolah dicangkul dan di bajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 2 hari, biarkan mengering sampai 7 hari. Kemudian tanah diolah untuk kedua kalinya.
  • Buat bedengan dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm, dan panjang disesuaikan ukuran petak.
  • Luas lahan persemaian 4% dari luas areal pertanaman atau sekitar 400 m2 untuk tiap hektar
  • Pupuk yang digunakan di lahan persemaian adalah Urea, TSP, dan KCL masing-masing dengan takaran 15 g/m2. Sebelum disebar, benih direndam terlebih dahulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam.
  • Benih yang mulai berkecambah ditabur di persemaian dengan kerapatan 25-50 g/m2 atau 0,5-1 kg per 20 m2.
  • Kebutuhan benih untuk 1 ha adalah 10-20 Kg.

3. Persiapan Lahan Pertanaman

  • Persiapan lahan pertanaman padi mirip dengan persemaian namun tanpa pembuatan bedengan.
  • Tanah diolah secara sempurna, yaitu dibajak (pertama dan kedua), kemudian tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan.
  • Menekan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot herbisida pratumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari atau sesuai dengan anjuran.

4. Pananaman Padi

  • Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari, satu bibit per lubang.
  • Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki jumlah daun yang sama, misalnya 2-3 daun per batang.
  • Jarak tanam 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm.
  • Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm.
  • Sisa bibit yang telah dicabut di persemaian diletakkan di pinggir petakan, digunakan untuk menyulam dan dilakukan 7 hari setelah tanam.
  • Setelah penanaman air dibiarkan macak-macam (1-3 cm) selama 7-10 hari.

Sumber : dok. Balitbangtan

5. Pemupukan

Anjuran umum untuk pemupukan, yaitu: 150-200 kg Urea, 100-150 kg SP36, dan 100 kg KCl per hektar, dengan waktu pemberian:

  • Pupuk dasar (saat tanam): 50% Urea (75-100 kg/ha) + 100%  SP36 + 100% KCl.
  • Pupuk susulan (pemberian urea) disesuaikan kondisi tanaman atau dengan Bagan Warna Daun.

Pengendalian hama penyakit dilakukan terpadu

Pengendalian HPT dilakukan secara terpadu  dengan pendekatan prinsip PHT.

Seleksi/Rouging

Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, karena itu seleksi/rouging perlu dilakukan dengan benar mulai   persemaian benih sampai akhir pertumbuhan. Rouging adalah kegiatan membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri fisik/morfologis menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang benihnya diproduksi. Rouging dilakukan umur: 35-45 HST, 50-60 HST, 85-90 HST dan 100-115 HST.

Panen

Saat panen adalah waktu biji telah masak atau 90-95% malai telah menguning. Proses panen:

  • Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan gabah dari tanaman tersebut tidak digunakan sebagai  calon benih.
  • Panen dilakukan dengan memotong batang tanaman dibagian tengah, kemudian dirontok dengan mesin thresher, atau memotong batang tanaman dibagian bawah dan bagian tanaman yang dipanen digebot.
  • Lakukan pengukuran kadar air biji atau benih saat tanaman dipanen menggunakan moisture meter.
  • Calon benih kemudian dimasukkan ke dalam karung dan diberi label: nama varietas, tanggal panen, asal pertanaman, dan berat calon benih, lalu diangkut ke ruang pengolahan benih.

Pengeringan Benih

Kadar air benih perlu segera diturunkan dengan cara menjemur atau menggunakan alat pengering karena calon benih umumnya mempunyai kadar air yang tinggi.  Pada tingkat kadar air tinggi, calon benih bisa diangin-anginkan sebelum dikeringkan.

Pengeringan dengan cara penjemuran

- Pastikan lantai jemur bersih dan beri jarak yang cukup antar benih dari varietas yang berbeda.

- Gunakan alas di bagian bawah untuk mencegah suhu penjemuran yang terlalu tinggi.

- Lakukan pembalikan benih secara berkala.

- Lakukan pengukuran suhu pada hamparan benih yang dijemur dan kadar air setiap 2-3 jam sekali, serta catat suhu hamparan dan kadar air benih.

- Bila pengeringan menggunakan sinar matahari, penjemuran umumnya memerlukan waktu 4-5 jam. Penjemuran sebaiknya dihentikan apabila suhu hamparan benih lebih dari 43oC.

- Pengeringan dilakukan hingga kadar air telah mencapai atau telah memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

Pengeringan dengan alat pengering (Dryer)

- Bersihkan mesin pengering, pastikan tidak ada benih yang tertinggal, dan mesin berfungsi baik.

- Suhu udara dibagian dalam alat pengering sebaiknya disesuaikan dengan kadar air awal benih.

- Benih dengan kadar air panen yang tinggi jangan langsung dipanaskan tetapi diangin-anginkan terlebih dahulu (gunakan hembusan angin/blower).

- Bila kadar air benih sudah aman untuk menggunakan pemanasan, atur suhu pengeringan benih dan tidak lebih dari 43oC.

- Lakukan pengecekan suhu hamparanbenih dan kadar air benih setiap 2-3 jam dan dicatat.

- Pengeringan dihentikan bila kadar air telah mencapai atau telah memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

Pengolahan Benih

Pengolahan meliputi pembersihan dan pemilihan benih untuk menghindari benih tercampur dengan varietas lain. Pembersihan bertujuan membersihkan benih dari kotoran (tanah, jerami, dan daun padi yang terikut) juga untuk membuang benih hampa. Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang lebih seragam dalam ukuran (panjang, lebar, ketebalan), bentuk, dan bobotnya. Alat-alat seperti indent cylinder machine, indent desk separator, gravity table separator dan lainnya dapat digunakan dalam pemilihan benih.

Pengemasan Benih

Pengemasan bertujuan untuk melindungi benih selama penyimpanan, terutama dalam mempertahankan mutu benih dan menghindari serangan hama dan penyakit. Benih dapat dikemas dalam karung plastik yang dilapisi dengan kantong plastik dibagian dalamnya. Pengemasan dilakukan setelah contoh benih dinyatakan lulus oleh BPSB melalui uji laboratorium.

Penyimpanan Benih

Kondisi penyimpanan yang baik adalah kondisi yang mampu mempertahankan mutu benih. Daya simpan benih dipengaruhi oleh mutu benih awal disimpan dan kondisi ruang simpan.

Kondisi ruang simpan yang baik untuk benih adalah pada kondisi kering dan dingin. Persyaratan gudang penyimpanan:

- Tidak bocor

- Lantai harus padat (terbuat dari semen/beton)

- Mempunyai ventilasi yang cukup dan sirkulasi udara berjalan lancar agar gudang penyimpanan tidak lembab.

- Bebas dari gangguan hama dan penyakit (ruangan bersih, lubang ventilasi ditutup kawat kasa).