JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Paket Teknologi “Jarwo Super” Di Lahan Pasang Surut

Teknologi padi Jarwo Super di lahan pasang surut

Pada tahun 2016 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menghasilkan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas padi sawah secara signifikan. Inovasi tersebut adalah teknologi Jajar Legowo Super (Jarwo Super), yaitu teknologi budidaya padi secara terpadu berbasis cara tanam jajar legowo di lahan irigasi.

Pada pelaksanaan Demo Area di daerah Indramayu Jawa Barat, penerapan teknologi Jarwo Super terbukti mampu memberikan produktivitas padi unggul baru hingga 13,9 t/ha atau meningkat hingga 98,6% dari produksi yang dihasilkan petani di luar Demarea.  Teknologi ini tentu membuat penasaran dan menimbulkan pertanyaan, apakah teknologi jarwo super hanya sesuai atau cocok di lahan irigasi yang memang menjadi andalan untuk peningkatan produksi padi-padi sawah nasional? Lalu bagaimana jika teknologi ini dikembangkan di lahan pasang surut, yang harus kita sentuh dan bangunkan dalam pemanfaatannya?

Dengan sedikit meubah komponen teknologi yang diaplikasikan di lahan irigasi, teknologi jarwo super diaplikasikan di lahan pasang surut, baik pada tipe luapan air A ke B maupun tipe luapan air B. Komponen teknologi padi Jarwo Super di lahan pasang surut ini menggunakan : (1) benih bermutu, sesuai selera petani. Hal ini perlu ditekankan mengingat masyarakat di lahan pasang surut Kalimantan Tengah dan Selatan sangat memperhatikan bentuk gabah dan rasa nasi, dari tanaman padi yang mereka usahakan. Berapapun tingkat produktivitas padi, tidak akan diadopsi apabila tidak sesuai dengan selera masyarakat. Hasil preferensi petani di lahan pasang surut, terhadap varietas yang diaplikasikan (sesuai urutan) : Inpari 42, Inpari 43, Inpara 2, Inpari 30, Inpara 3, Inpara 9 dan Inpara 8. (2) Biodekomposer spesifik lahan rawa yaitu Biotara yang diaplikasikan pada saat pengolahan tanah, (3) Pemberian kapur dolomit dan arang sekam di lahan-lahan sulfat masam, (4) Pupuk hayati sebagai seed treatment berupa agrimeth dan pemupukan berimbang sesuai hasil analisis tanah, (5) pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu, (6) penggunaan mekanisasi pertanian, pada saat tanam dan panen, dilakukan apabila tersedia dan kondisi lahan sesuai dengan tipe alat yang digunakan. 

Penerapan teknologi Jarwo Super dilahan pasang surut terbukti mampu memberikan produktivitas padi unggul baru Inpari 42 hingga 8,64 t/ha gkp dan varietas Inpara 3 serta Inpari 30 masing-masing berproduksi sebanyak 6,56 t/ha gkp, di lahan pasang surut Tipe A ke B kecamatan Kota Besi Kabupaten Kotawaringin Timur (Periode tanam 5 September – 13 Desember 2017). Rata-rata tingkat produktivitas padi unggul di lokasi ini adalah 4,4 t/ha, maka teknologi jarwo super di lahan pasang surut terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 96,36 %.

Adapun di lahan pasang surut sulfat masam dengan tipe luapan air B di kabupaten Kapuas (periode tanam 31 Mei - 11 September 2017), aplikasi teknologi jarwo super berproduksi sebanyak 7,4 t/ha gkp untuk padi varietas Inpara 8, dan dan sebanyak 5,7 t/ha gkp untuk varietas padi Inpari 30. Terjadi peningkatan peroduktivitas padi sebesar 63,0%-111%.

Semua hasil membuktikan bahwa teknologi Jarwo Super tidak hanya spesifik dan sesuai di lahan sawah irigasi, namun sangat potensial dalam meningkatkan produktivitas padi di lahan pasang surut, dan dapat dikembangkan secara luas dalam rangka mendukung swasembada pangan berkelanjutan (Susilawati, BPTP Kalimantan Tengah).

 

Lampiran :  Komponen paket teknologi Jarwo Super di lahan pasang surut.

Komponen Teknologi

Rekomendasi

Benih unggul

Varietas unggul pilihan petani, disarankan varietas Inpari 42, Inpara 2, Inpari 43, Inpara 8, dll.

Kebutuhan benih

25 – 30 kg/ha

Umur bibit

15-17 hari

Sistem tanam

Jajar legowo 2 : 1 atau (25 x 15) x 40 cm

Kapur Dolomit

500-1.000 kg/ha/musim, diaplikasikan seminggu sebelum tanam

Biotara (dekomposer

spesifik lahan rawa)

25 kg/ha, diaplikasikan saat pengolahan tanah

Biochar (Arang Sekam)

20 karung/ha, diberikan bersamaan dengan dolomit.

Agrimeth (bungkus)

10 bks/25 kg benih, perlakuan benih.

Pupuk Organik Cair

4 liter/ha

Urea

100-150 kg/ha (sesuai hasil analisis tanah)

NPK

150-300 kg/ha (sesuai hasil analisis tanah)

Pengendalian OPT

Hayati dan Kimia secara bijak.